Opini, Produktivitas

5 Dampak Menjadi Perfeksionis Yang Dapat Merugikanmu

Written by Kriscahyani

Kamu sering bolak-balik bertanya apakah kamu sudah melakukan pekerjaanmu dengan baik? Kamu merasa bersalah dan malu bila apa yang kamu lakukan tidak berjalan lancar dan sesuai harapanmu? Bisa jadi kamu termasuk seseorang yang perfeksionis.

Mengutip dari Forbes.com, didefinisikan oleh para psikolog, perfeksionis adalah kepribadian yang ditandai oleh usaha keras seseorang untuk menetapkan standar kinerja tinggi tanpa cacat, disertai dengan menjadi kritis terhadap diri sendiri dan khawatir tentang evaluasi orang lain.

Seorang perfeksionis didorong oleh keinginan agar semuanya berjalan dengan sempurna, tak boleh gagal. Perfeksionis muncul karena adanya hasrat kuat dalam diri untuk menjadi sosok yang hebat.

Perfeksionisme juga dapat disebabkan oleh harapan dan tuntutan dari lingkungan kita. Adanya tuntutan dari keluarga, guru, atau atasan kita yang mengarahkan kita untuk mencapai kesuksesan dan mendoktrin untuk menghindari kegagalan.

Di satu sisi, menjadi seorang perfeksionis memang mengandung nilai positif dimana seseorang memiliki motivasi yang tinggi dan berjuang untuk mendapat apa yang ia inginkan.

Namun di sisi lain, menjadi perfeksionis juga memberikan dampak negatif bagi orang tersebut. Misalnya saja ia jadi pribadi yang suka menyalahkan diri sendiri karena apa yang direncanakannya tidak terpenuhi.

Agar lebih jelas, simaklah beberapa dampak negatif dikarenakan sifat perfeksionis

Membuat diri lupa menikmati proses

Adanya pikiran-pikiran yang menuntut agar semuanya sempurna, seringkali membuat seorang perfeksionis begitu mengutamakan hasil. Buruknya, ia jadi lupa untuk menikmati proses.

Perfeksionisme tidak hanya membuat seseorang lupa menikmati proses tapi juga menghambat ia mencoba pengalaman baru, bahkan mengembangkan kreativitas.

Mendorong untuk menunda pekerjaan

Menjadi seorang perfeksionis, mendorong seseorang untuk menunda pekerjaan. Akibat dari memiliki standar yang tinggi, seseorang perfeksionis berusaha agar melakukan yang terbaik. Ia memiliki ketakutan apabila tugas yang akan ia kerjakan tidak selesai dengan sempurna.

Secara tidak langsung, kesempurnaan itu sendiri menjadi tekanan baginya. Dengan begitu ia cenderung menunggu waktu yang tepat baginya untuk memulai sesuatu.

Membuat diri lupa bersyukur

Seorang perfeksionis berpegang teguh pada standar tinggi terhadap diri mereka juga pekerjaan yang melibatkan mereka. Seringkali mereka menjadi kritis terhadap diri sendiri jika belum dapat memenuhi standar tersebut.

Mereka tidak akan puas begitu saja dengan hasil pekerjaannya yang mengakibatkan diri mereka menjadi lupa bersyukur.

Berdampak buruk bagi kesehatan mental

Para peneliti telah menemukan adanya fakta dimana perfeksionisme berkaitan dengan kesehatan mental. Dalam sebuah penelitian, dikemukakan bahwa orang-orang yang teridentifikasi dengan sifat perfeksionis memiliki tingkat tekanan psikologis yang tinggi dibandingkan dengan non-perfeksionis.

Kesempurnaan yang terkadang menjadi tuntutan dan berubah jadi tekanan psikologis, akan meningkatkan stres dan kecemasan seseorang. Perfeksionis juga cenderung membuat individu merasa bersalah, malu dan tidak berharga jika mereka mengalami kegagalan.

Berujung egois

Perfeksionisme tidak hanya berorientasi pada diri sendiri di mana individu memaksakan standar tinggi pada diri mereka sendiri. Tetapi dalam tingkat tertentu, seorang perfeksionis ikut menempatkan standar tinggi pada orang lain.

Ia mengharapkan orang lain mengikuti keinginannya  dan mengerjakan semua dengan sempurna seperti yang ia lakukan. Dan ketika orang lain berbuat salah atau keliru ia cenderung sulit mentolerir kesalahan tersebut. Dengan begitu, egoisme akan tumbuh bersamaan dengan sikap perfeksionis.

Barangkali setiap orang ingin hasil yang sempurna, namun kesempurnaan bisa jadi penghalang bagi kita untuk menikmati proses dan membiarkan diri kita berhasil.

Alih-alih, biarkanlah dirimu lepas dari sikap perfeksionis yang meracuni dan cobalah untuk menikmati pekerjaanmu. Lagipula, ingatlah bahwa tidak ada individu yang sempurna tanpa kekurangan di dunia ini.

Referensi :

Whitener, S.  (2018, January 2). https://www.forbes.com/sites/forbescoachescouncil/2018/01/02/why-being-a-perfectionist-can-hold-you-back/#191911bed1df.  Retrieved from https://www.forbes.com/.

Mengenal “Bias Negatif dalam Berpikir”

  ·   2 min read