Produktivitas

6 Alasan Kamu Harus Berhenti Jadi ‘Yes Man’

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini

Apakah kamu pernah menonton film “Yes Man” yang dibintangi oleh Jim Carey pada 2008 lalu?

Secara garis besar, film ini bercerita tentang bankir bernama Carl yang sempat putus asa, lalu terpengaruh untuk mengatakan “Tidak” pada setiap kesempatan. Namun setelah mengikuti seminar pengembangan diri, ia menjadi tertantang untuk selalu mengatakan “Ya”. Akhirnya hal ini dilakukan kepada hampir setiap tawaran yang diberikan padanya. Ujung-ujungnya, kebiasaan ini membuat Carl repot.

Nah, pesan dari film ini adalah segala sesuatu yang dilakukan berlebihan pasti akan membawa dampak yang tidak baik. Satu sisi, kata positif seperti “iya” memang menjadikan seseorang bersemangat dan berkeinginan untuk melakukan hal-hal baik. Namun saat semuanya menjadi berlebihan dan melewati batas, berbagai masalah tentu akan muncul.

Sebenarnya, apa sih Yes Man itu?

Yes Man adalah sebutan bagi seseorang yang sulit menolak segala hal. Biasanya, seorang Yes Man menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kepentingan orang lain. Mengapa? Karena Yes Man cenderung ingin menghindari konflik dan takut jika menolak permintaan orang lain.

Apakah kamu termasuk orang yang terlalu baik dan selalu mengiyakan permintaan orang?

Wajar saja, karena meski sedang lelah dan tidak ingin, perasaan tidak enak hati dan takut mengecewakan kita lebih besar dibandingkan kejujuran.

Bahaya Menjadi Yes Man

Masalahnya, menjadi Yes Man akan berdampak buruk pada hidupmu, lho. Sekali atau dua kali menerima tawaran orang lain saat memang dibutuhkan itu tidak masalah. Namun, bila keterusan, kamu memiliki kemungkinan besar untuk merasakan beberapa dampak berikut.

Prioritas dan Jadwalmu Berantakan

Photo by Estée Janssens on Unsplash

Pertama, dengan menjadi Yes Man, jadwal dan prioritas yang sudah kamu susun sebelumnya menjadi rentan terganggu. Hal ini terjadi karena kamu selalu mengiyakan permintaan atau ajakan orang lain. Demi memenuhi ajakan orang lain, akhirnya kamu menjadi tidak fokus dengan keperluanmu.

Contohnya, seorang teman memintamu menemaninya berbelanja baju. Padahal kamu memiliki sejumlah tugas kuliah yang harus segera diselesaikan. Namun karena tidak enak, kamu akhirnya mengiyakan dan kamu baru kembali ke rumah jam 8 malam, lalu tugasmu menjadi terbengkalai.

Keteteran dengan Beban yang Terlalu Banyak

Meski pintar mengatur waktu, seorang Yes Man juga rentan dengan keteteran karena terlalu banyak menanggung beban. Ini disebabkan karena di saat kamu sudah memiliki tanggung jawab pribadi, kamu juga menerima permintaan orang lain. Padahal kamu sedang tidak dalam posisi luang atau bisa dimintai pertolongan, namun kamu terpaksa melakukan pekerjaan lebih banyak.

Waktu untuk Diri Sendiri Berkurang

Berkaitan dengan sebelumnya, menerima terlalu banyak tawaran atau permintaan membuatmu kehilangan waktu untuk diri sendiri. Seorang Yes Man akan berpikiran bahwa ia tidak sempat meluangkan waktu untuk istirahat atau bersenang-senang demi kebahagiaan dirinya sendiri.

Terlalu banyak beban yang harus diselesaikan juga membuatmu rentan untuk stres dan lelah, akhirnya performa diri semakin menurun.

Jadi Kurang Berkembang

Apa akibat dari kamu tidak punya cukup waktu untuk diri sendiri?

Akibatnya adalah kamu jadi tidak punya kesempatan untuk mengeksplor diri sendiri. Selain itu, kamu jadi susah mengetahui bidang apa yang disukai dan sulit untuk mengasah kemampuan secara spesifik. Hal ini terjadi karena kamu terlalu fokus mengurusi orang lain, dan terbiasa mengiyakan permintaan orang lain yang bermacam-macam. Ibaratnya, kamu mengerjakan semua hal namun tidak ada yang benar-benar dikuasai.

Pengeluaran Berlebihan

Photo by Jp Valery on Unsplash

Selanjutnya, kalau kamu jadi Yes Man, bersiaplah untuk melihat pengeluaran yang berlebihan setiap waktunya. Alasannya adalah karena kamu akan sering mengikuti ajakan orang, mulai dari ke mal, nongkrong, berbelanja, atau sesederhana menge-print tugas teman kuliahmu.

Coba kamu perhatikan lagi, berapa biaya yang sudah kamu keluarkan demi menyenangkan orang lain? Bahkan mungkin, biaya kebutuhan yang kamu keluarkan untuk orang lain lebih besar dari kebutuhan pribadimu.

Rentan Dimanfaatkan

Dengan alasan kamu terlalu baik karena selalu berkata “ya” saat teman-temanmu membutuhkan, mereka jadi cenderung bergantung padamu. Tentu tak ada salahnya menolong orang lain, namun kamu harus bisa melihat situasi dan kondisi.

Jangan sampai lingkungan sekitarmu memanfaatkan rasa tidak enakmu, lalu memperlakukanmu sembarangan. Jika orang lain sudah terlalu sering meminta bantuan, terutama ketika sebenarnya pekerjaan itu bisa dikerjakan sendiri, sebaiknya kamu belajar bilang “tidak”.

Dari penjelasan di atas, sudah jelas ya alasan-alasan mengapa kamu tidak boleh terus-terusan menjadi seorang Yes Man. Sesekali, kamu boleh menawarkan bantuan dan menolong orang lain. Namun, ketahui lagi mana yang harus diiyakan dan mana yang tidak.

Ingat, kamu juga harus mencintai diri sendiri. Jangan sampai mengorbankan kepentingan pribadi demi kebahagiaan orang lain, ya.