Lifestyle

Bahagiakan Diri dengan Berhenti Jadi People Pleaser

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini

“Kenapa ya aku susah banget nolak permintaan orang lain?”

“Kenapa sih harus selalu aku yang salah?”

Apakah kamu sering merasa seperti ini? Jika iya, mungkin tanpa sadar kamu adalah seorang people pleaser.

Arti people pleaser sendiri adalah seseorang yang selalu berusaha untuk menyenangkan hati orang lain dengan perkataan dan tindakannya. Biasanya, orang ini akan menomorduakan keinginannya sendiri. Sekilas, terdengar positif ya?

Namun menjadi people pleaser tidak selalu positif lho. Menurut psikologi, selalu berusaha menyenangkan orang lain sampai melupakan kebahagiaan diri sendiri adalah kebiasaan yang buruk.

Seorang people pleaser cenderung menjadikan orang lain sebagai pusat dunia, hingga ia menjadi kesulitan menentukan arah hidupnya.

Don’t be afraid to lose people. Be afraid of losing yourself by trying to please everyone around you.”

Demi menyenangkan orang lain, people pleaser akan mengorbankan diri sendiri, dan tidak memprioritaskan kebutuhan utamanya. Menjadi orang yang selalu menyenangkan orang lain memang akan membuatmu lebih disukai, namun juga membuatmu mudah dimanfaatkan orang lain.

Sebenarnya, tak ada yang salah dari berusaha membahagiakan orang lain. Kesalahan muncul ketika people pleaser memaksakan diri demi orang lain, hingga dirinya sendiri menderita atau tidak bahagia. Tentunya menjadi seorang yang serba ‘tidak enakan’ lama-lama membuat capek diri sendiri.

Tanda-Tanda Kamu adalah People Pleaser

Sulit untuk Berkata “Tidak”

Jika kamu selalu mengiyakan apapun permintaan orang-orang di sekitarmu, padahal kamu tidak menginginkannya, bisa jadi kamu adalah people pleaser. Tanpa sadar, kamu akan sering dimintai bantuan atau menjadi sering disuruh. Mungkin orang-orang akan memujimu, namun kamu sendiri sebenarnya males dan capek melakukannya. Alasan kamu sulit mengatakan “tidak” adalah karena khawatir orang lain marah atau kesal, atau kamu tidak mau dicap egois.

Memilih Diam atau Pura-Pura Setuju saat Dimintai Pendapat

Ciri selanjutnya adalah saat kamu seringkali sulit menyuarakan pendapat atau perasaanmu saat berada dalam suatu kelompok. Misalnya ketika rapat, kamu memiki perbedaan pendapat dengan temanmu, namun kamu memilih diam atau pura-pura setuju dengan suara kebanyakan. Biasanya hal ini kamu lakukan karena takut dianggap berbeda atau khawatir pendapatmu tidak diterima.

Terlalu Sering Meminta Maaf Meski Tidak Berbuat Salah

Photo by Caleb Woods on Unsplash

Terkadang, kamu terlalu sering meminta maaf untuk sesuatu yang tidak perlu. Jika kamu memang tidak bersalah, kamu tidak berkewajiban untuk meminta maaf. Misalnya saat seseorang menanyakan sesuatu yang bukan tanggung jawabmu, bila kamu tidak tahu, jangan merasa bersalah. Seringkali kamu meminta maaf semata-mata karena takut mengecewakan harapan orang lain.

Membutuhkan Pujian dan Pengakuan

Seorang people pleaser akan memiliki rasa aman dan percaya diri jika mendapatkan pengakuan dari orang lain. Contohnya adalah kamu perlu orang di sekitarmu untuk mengatakan bahwa kamu berharga dan mampu. Jika kamu tidak mendapat pujian yang cukup, kamu akan minder, bingung, dan akhirnya merasa selalu kurang.

Khawatir Tidak Disukai

Kamu terlalu memedulikan pendapat orang lain atas dirimu. Padahal, tidak semua pendapat orang tentangmu itu pasti benar, karena hanya kamu yang mengetahui dirimu sepenuhnya. Dengan alasan takut orang lain membencimu, kamu selalu menerima omongan orang. Sedikit saja orang berbicara tentangmu, kamu langsung khawatir melakukan kesalahan dan merasa tidak disukai.

Sering Menutupi Perasaan saat Disakiti

Photo by Sydney Sims on Unsplash

Berkaitan dengan sebelumnya, kamu akan berusaha selalu terlihat baik-baik saja. Seorang people pleaser biasanya tidak mau menunjukkan citra diri yang lemah, meski sedang tersakiti. Saat sedang tidak bahagia, kamu akan berusaha menunjukkan bahwa kamu tidak apa-apa demi menjaga kesenangan orang sekitarmu.

Itulah beberapa tanda jika kamu adalah seorang people pleaser. Secara tak langsung, memelihara sifat sebagai people pleaser dapat membuatmu merasa berkedudukan lebih rendah dibanding orang lain, karena seolah-olah orang lain adalah hal utama.

Jika terus-menerus dilakukan, kamu juga akan sulit untuk membahagiakan diri sendiri.

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk berhenti jadi seorang people pleaser?

Cara Efektif Berhenti Jadi People Pleaser

Berdamai dengan Masa Lalu

Photo by Smart on Unsplash

Kebanyakan orang yang mudah merasa segan atau tidak enakan, memiliki trauma masa lalu dari tindakan tertentu seperti bullying. Perasaan takut tidak diterima orang lain saat kamu menjadi diri sendiri, membuatmu terpaksa untuk selalu menyenangkan orang lain.

Melupakan dan berdamai dengan masa lalu menjadi langkah awal yang harus kamu lakukan untuk berhenti jadi people pleaser. Berdamai dengan masa-masa yang membuatmu menjadi tidak percaya diri atau tidak berani menunjukkan diri.

Dengan merelakan masa lalu, kamu bisa jadi lebih menghargai dirimu sendiri.

Niat untuk Berubah

Pahami dan sadari bahwa menjadi people pleaser tidak selamanya positif. Dengan mengorbankan kebahagiaan sendiri, kamu tidak akan pernah mendapat kepuasan yang utuh. Yakinkan dirimu untuk berubah dengan tujuan menjadi pribadi yang lebih baik.

Cintai Diri Sendiri

Photo by Allie Smith on Unsplash

Mulai untuk lebih menghargai diri sendiri dan jangan rendahkan dirimu di depan orang lain. Kamu bisa menentukan apa saja yang membuatmu bahagia, tidak hanya berdasarkan keinginan menyenangkan lingkungan sekitarmu. Pikirkan hal-hal yang bisa membuatmu menjadi lebih baik.

Belajar Berkata “Tidak”

Kamu harus menyadari bahwa dirimu memiliki batasan. Membantu orang lain memang hal yang mulia, namun jangan sampai mengorbankan diri sendiri. Jika memang merasa tidak mampu atau di luar tanggung jawabmu, coba mulai untuk mengatakan “tidak”.

Kamu diperbolehkan kok untuk menolak hal-hal yang sebenarnya bukan kewajibanmu. Agar tidak menyakiti orang lain, tolaklah permintaan mereka dengan sopan disertai alasan yang masuk akal.

Sampaikan Pendapatmu dengan Jujur

Photo by Alexis Brown on Unsplash

Tidak ada yang salah dari menjadi berbeda. Ingat juga bahwa kamu boleh-boleh saja tidak setuju terhadap sesuatu. Orang di sekitarmu tidak akan menjauhi hanya karena hal kecil seperti perbedaan pendapat. Meski pendapatmu berbeda, orang akan tetap menghargai dan menghormati jika kamu menyampaikannya secara baik dan sopan.

Kurangi Meminta Maaf Jika Tidak Perlu

Jika melakukan kesalahan, tentu kamu harus meminta maaf. Namun, jika memang kamu tidak bersalah atau bertanggung jawab atas sesuatu, kamu tidak perlu melakukannya. Kebiasaan terlalu sering meminta maaf akan membuatmu menjadi merasa selalu tidak enak dan seakan tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain. Belajarlah untuk lebih tegas dan bijak pada dirimu.

Berhenti Overthinking

Photo by Anthony Tran on Unsplash

Overthinking atau memikirkan segala sesuatu sampai berlebihan, akan memperparah kebiasaan seorang people pleaser. Hal ini juga berlaku dalam pertemanan, karena seringkali people pleaser memikirkan perkataan orang lain terlalu serius. Padahal, bisa jadi yang orang lain pikirkan tersebut sebenarnya biasa-biasa saja.

Cobalah untuk berpikir secara lebih rasional. Jika memang tidak sanggup atau tidak bisa, katakan dengan tegas pada temanmu. Kamu berhak menolak sesuatu jika memang situasi dan kondisinya tidak mendukung.

Lalu, latih dirimu agar tidak terus-menerus memikirkan dampak selanjutnya. Ingat bahwa pikiran burukmu hanya muncul karena berulang kali dibayangkan.

Menjadi orang yang baik dan gemar menolong orang lain adalah sikap positif. Namun, tidak perlu berlebihan sampai mengorbankan dirimu sendiri. Pahami bahwa ada batasan-batasan yang tidak seharusnya dilanggar. Ingat, baik hati dan people pleaser itu berbeda, lho.

Tak hanya orang lain, kamu juga wajib mencintai diri sendiri. Yuk, bahagiakan diri dengan berhenti jadi people pleaser!

Stoicism: Cara Tepat Menghadapi 2020

  ·   3 min read