Opini

Body Shaming : Bisakah Kita Berhenti Melakukannya?

Written by Kriscahyani

“kok kamu kurus banget sih?”

“ih gendutan deh lo”

“pendek amat sih, coba aja kalo tinggian dikit lagi”

“item banget sih jadi cewek”

Pernahkah kamu mendengar kalimat-kalimat di atas dari orang lain atau melontarkannya kepada orang lain? Nah simpan dulu jawabanmu ya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tiap individu peduli bahkan amat peduli terhadap penampilan fisik. Sehingga, seringkali kita berkomentar tentang penampilan fisik orang lain maupun diri kita sendiri. Sayangnya, komentar tersebut kebanyakan berbau negatif dan menjurus kepada apa yang disebut dengan body shaming.

Istilah body shaming akhir-akhir ini menjadi trend di masyarakat. Tanpa kita sadari mungkin kita pernah menjadi korban bahkan pelaku body shaming. Tidak hanya di dunia nyata, body shaming juga kerap ditemukan di dunia maya khususnya media sosial.

Body shaming ialah tindakan yang melecehkan atau mempermalukan seseorang dengan memberikan komentar negatif terkait bentuk maupun ukuran tubuhnya. Dengan begitu, body shaming digolongkan pula ke dalam bullying verbal.

Siapa saja bisa menjadi pelaku dan korban body shaming, baik laki-laki maupun perempuan. Namun pada kenyataannya, memang seringkali wanitalah yang berperan menjadi pelaku, korban, bahkan keduanya. Bisa jadi ini dikarenakan adanya standar kecantikan tidak tertulis di dalam masyarakat.

Mungkin pada awalnya, pelaku body shaming berpikir bahwa celetukannya akan tubuh seseorang yang menurutnya tidak ideal dapat memotivasi orang tersebut untuk merubah bentuk tubuhnya.

Atau barangkali ia hanya bercanda, namun tanpa diketahui hal tesebut mempengaruhi emosional si korban. Tidak semua orang dapat lapang dada menerima komentar yang sifatnya negatif.

Sebaliknya, komentar tersebut bisa jadi menurunkan kepercayaan diri mereka. Membuat mereka merasa lebih buruk bahkan bisa membuat mereka membenci diri mereka sendiri. Kebayang bagaimana jahatnya?

Tak hanya pada orang lain, mungkin kita juga pernah melakukan body shaming pada diri kita lho. Pernah membandingkan fisikmu dengan orang lain? Kemudian menjadi kecil hati dan tanpa sadar bergumam “kok aku gendut banget ya?” “kok aku nggak secantik orang-orang ya?”

Kita merasa fisik kita tidak menarik karena tidak sesuai dengan persepsi lingkungan. Pada akhirnya kita merasa cemas, malu dan trauma ketika membahas tentang tubuh. Sudah saatnya kita berhenti merasa seperti itu, namun bisakah kita? Atau mungkin sebenarnya bunyi pertanyaan yang tepat ialah “maukah kita?”

Jika jawabanmu atas pertanyaan di awal tadi “ya, saya pernah menjadi pelaku body shaming” maka yang sekarang harus kamu lakukan ialah berubah.

Merubah persepsimu terhadap standar fisik. Merubah keyakinanmu bahwa tiap orang dilahirkan berbeda dan unik dengan caranya masing-masing. Maka tidak seharusnya kamu membandingkan bahkan berperan sebagai hakim yang menegakkan aturan fisik bagi lingkunganmu.

Sedangkan jika jawabanmu “saya pernah menjadi korban” maka mulai sekarang tutup telingamu, hindari mereka. Tidak apa kalau kamu tidak dapat membela diri di depan mereka.

Namun, ubahlah perasaan negatif yang kamu terima menjadi cara untuk mencintai tubuhmu. Makanlah makanan yang bergizi, tidur yang cukup dan sempatkan untuk relaksasi.

Pun ketika melihat orang lain melakukan praktik body shaming, kita harus membantu menyadarkan pelaku bahwa tindakannya salah dan membela korban.

Kita lupa betapa menakjubkannya kita sebagai ciptaan-Nya. Semua orang itu menarik, terlepas dari bagaimanapun bentuk dan ukuran tubuhnya. Bentuk dan ukuran tersebut tidak akan menentukan nilai kita sebagai manusia.

Mulailah untuk memberhentikan body shaming dari dirimu sendiri dulu. Belajarlah menerima dan mencintai setiap bagian dari tubuhmu. Kemudian jangan pernah merendahkan tubuh orang lain maupun diri sendiri ya!

Mengenal “Bias Negatif dalam Berpikir”

  ·   2 min read