Lifestyle

6 Tips Mengatasi & Menghindari Cyberbullying

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini

Apakah kamu ingat, kasus kekerasan pelajar di Pontianak beberapa waktu lalu?

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kasus ini diketahui berawal dari cyberbullying di media sosial.

Tak hanya itu, survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet di Indonesia yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2018, menunjukkan 49% pengguna media sosial pernah mengalami cyberbullying dalam bentuk diejek atau dilecehkan.

Ya, media sosial yang dilahirkan dari internet menjadi tempat setiap orang bisa berbagi, berpendapat, dan menyampaikan ide-ide mereka. Namun sisi gelapnya adalah perilaku penindasan yang muncul semudah jentikan jari.

Terutama di era teknologi seperti sekarang, kejahatan dunia maya semakin marak terjadi. Kasus kejahatan yang sebagian besar terjadi melalui media sosial atau dikenal sebagai cyberbullying akan memberikan dampak buruk bagi korbannya.

Apa itu Cyberbullying?

Cyberbullying adalah tindakan melecehkan, mengancam, mempermalukan, atau mengejek orang lain yang dilakukan melalui internet. Tidak seperti bullying fisik atau verbal di dunia nyata, cyberbullying terjadi tanpa tatap muka.

Banyak sekali orang yang meremehkan atau tidak waspada terhadap bahaya dari perilaku cyberbullying. Padahal, seringkali bahaya dari cyberbullying menimbulkan efek yang lebih parah dibandingkan bullying di dunia nyata.

Bahkan sejumlah artis dari negeri Ginseng mengalami depresi, gangguan kecemasan, hingga melakukan suicidal karena kasus cyberbullying.

Alasannya mungkin karena setiap aktivitas yang terjadi dalam media sosial akan terekam dan tersimpan selamanya. Selain itu, cyberbullying lebih mudah terjadi dengan frekuensi yang tinggi, karena kemudahan pelaku untuk melakukan hal tersebut secara berulang melalui media sosial. Pelaku juga menjadi lebih sulit untuk dilacak.

Psikolog menyebutkan fenomena ini terjadi karena Online disinhibition effect, yaitu faktor seperti anonimitas, minimnya otoritas, dan tak harus bertemu. Seseorang bisa berkomentar semaunya, memaki, mengolok-olok, dan menjadi tidak beradab.


Sebagai salah satu pengguna aktif media sosial, tentu kita terbiasa memposting sesuatu, menyebarkan informasi, atau meninggalkan komentar.

Tapi, pernahkah kita berpikir, apakah komentar atau unggahan yang dibagikan di media sosial sudah aman? Jangan-jangan, kita pernah menyinggung atau melecehkan seseorang tanpa sengaja.

Meski dilakukan tanpa sadar, bisa jadi kita pernah menghina seseorang lewat postingan atau komentar kita yang awalnya dimaksudkan sebagai lelucon. Namun anggapan kita mungkin berbeda dengan pandangan orang lain yang ternyata tersinggung dan sakit hati.

Agar lebih berhati-hati, yuk lakukan cara berikut ini agar kita tidak jadi pelaku cyberbullying!

Pahami Bentuk Cyberbullying

Photo by ROBIN WORRALL on Unsplash

Pertama, kita harus memahami seperti apa bentuk-bentuk cyberbullying. Ketahuilah bahwa beberapa tindakan sederhana yang sebelumnya tidak terpikirkan, bisa jadi merupakan bagian dari cyberbullying.

Contohnya adalah menyebarkan informasi atau gambar rahasia orang lain di internet, mengedit gambar seseorang untuk dijadikan lelucon, atau mengeluarkan seseorang dari grup media sosial secara sengaja tanpa ada alasan. Nah, mungkin ada beberapa yang baru kamu tahu kan?

Cara Mengatasi & Menghindari Cyberbullying

Hati-Hati dalam Komentar atau Posting

Pasti tahu bahwa ada pepatah “Berpikir dahulu sebelum bertindak”.

Sama seperti itu, baiknya dalam melakukan sesuatu, kita harus lebih berhati-hati dan berpikir sekian kali sebelum melakukannya. Termasuk saat memposting sesuatu atau menulis komentar di media sosial dan mengunggahnya.

Meski terkadang, manusia suka khilaf. Saat terlalu emosi, bisa sangat kesal atau terlalu senang, kita menjadi lepas kontrol. Akhirnya kita jadi mudah menuliskan apapun termasuk kata-kata kasar atau kata-kata lelucon yang sebenarnya tidak baik bagi orang lain.

Saat ada kalimat atau komentar bernada kurang baik yang kira-kira berpotensi menyinggung orang lain, sebaiknya kita segera mengubahnya.

Hal ini juga termasuk saat mengomentari postingan orang lain yang tidak kita kenal, contohnya artis atau seseorang yang ‘kebetulan’ viral. Terkadang kita tergoda untuk menyampaikan komentar-komentar yang sebenarnya tidak perlu.

Hindari Mengolok Orang Lain

Photo by Josh Rose on Unsplash

Meski mungkin maksud awal kita adalah untuk bercanda, orang lain belum tentu menangkap maksud yang sama.

Hal ini merupakan salah satu kebiasaan yang sangat sering terjadi di antara pengguna media sosial. Banyak orang-orang yang tanpa sengaja mengolok orang lain, terutama yang berkaitan dengan fisik (body shaming) disertai emoticon lucu dan kalimat bercanda.

Namun, sadar engga? Tindakan yang terlihat sepele ini bisa menjadi senjata untuk menjatuhkan rasa percaya diri orang lain.

Walaupun tidak bermaksud jahat karena hanya menyampaikan apa yang ada di pikiran, kalimat-kalimat seperti “Kok kamu gendutan ya?”, “Wah ternyata kamu pendek juga”, atau “Cantiknya karena editan nih”, bisa menimbulkan sakit hati.

Tak hanya sakit hati, perilaku yang berulang dapat memicu depresi dan gangguan kecemasan pada orang lain.

Coba kamu evaluasi lagi, tujuan kamu berkomentar seperti itu, apa sih sebenarnya?

Hindari Berkata atau Berperilaku Kasar

Sadari bahwa setiap kalimat atau perilaku yang kita tunjukkan di media sosial, akan dilihat dan diingat oleh orang lain. Tak hanya teman dekat, fitur-fitur di media sosial membuat seseorang tak memiliki batasan dengan orang lain.

Jika terbiasa memposting atau berkomentar yang negatif, siap-siap untuk dijadikan bumerang oleh orang yang melihatnya. Apalagi jika kata-kata kasar atau aksi buruk itu menyangkut orang lain.

Dengan berkata-kata serta berperilaku yang sopan di media sosial, kemungkinan kita terkena atau menjadi pelaku cyberbullying pun akan berkurang.

Pahami Media Sosial Abadi

Photo by William Iven on Unsplash

Berkaitan dengan sebelumnya, kita harus tahu bahwa segala bentuk perbuatan di media sosial dan internet akan terekam selamanya.

Orang-orang dari seluruh dunia bisa mengetahui apa yang kita lakukan. Terutama jika kita adalah seorang publik figur, atau seseorang yang cukup dikenal di media sosial.

Bijak menggunakan media sosial berarti mengetahui adanya privasi. Jangan mudah memposting sesuatu yang sebenarnya adalah hal pribadi kita atau orang lain. Terlebih jika hal pribadi itu menyangkut rahasia yang lebih besar atau kepentingan sekelompok orang yang sebenarnya tidak boleh dibagikan.

Saat sebenarnya orang itu tidak mau hal pribadinya disebarkan, hal ini sudah termasuk dalam cyberbullying. Lebih jauh lagi, ketika tindakan itu dianggap mencemari nama baik, dapat diperkarakan ke ranah hukum.

Baca Kembali Komentar yang Akan Diposting

Terakhir, sebelum memposting caption foto, menulis komentar di media sosial orang lain, atau menyebarkan informasi, biasakan untuk membaca ulang.

Jika setelah kita baca dan dalami lagi, ternyata berpotensi menyinggung atau menyakiti orang lain, lebih baik hapus dan ganti dengan kalimat yang lebih baik.

Sebelum memposting sesuatu, mungkin kamu bisa menerapkan pertanyaan THINK:

T: Is It TRUE?

H: Is It Helpful?

I: Is It Inspiring?

N: Is It Necessary?

K: Is It Kind?

Bagaimana? Cukup mudah kan untuk melakukan hal-hal agar kita terhindar dari perilaku cyberbullying? Mari jaga diri kita dan jadilah orang yang bermanfaat bagi sesama.

Stoicism: Cara Tepat Menghadapi 2020

  ·   3 min read