Opini

FOMO, Fenomena Takut Tertinggal yang Mungkin Tidak Kamu Sadari

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini

“Wah artis A habis liburan ke Paris. Kayanya hidup dia selalu bahagia deh. Kapan ya aku kaya gitu?”

“Eh, kalian lagi gosip apa sih? Kok aku engga tau. Jangan-jangan aku ketinggalan informasi”

Apakah kamu sering berpikir seperti itu, terutama di media sosial?

Jika iya, mungkin kamu sudah terkena sindrom FOMO.

Apa itu FOMO?

FOMO merupakan singkatan dari “Fear of Missing Out” yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “takut ketinggalan”.

Mungkin sebagian dari kamu belum tahu, istilah FOMO ditemukan pertama kali oleh ilmuwan asal Inggris, Dr. Andrew K. Przybylski. Istilah ini juga telah tercatat dalam Oxford English Dictionary sejak 2013 lalu.

Secara definisi, FOMO atau Fear of Missing Out merupakan perasaan cemas, khawatir, atau takut yang timbul dari dalam diri seseorang bila ketinggalan sesuatu, seperti berita, tren, dan lainnya.

Seseorang yang mengalami FOMO akan merasa sedih saat melihat orang lain membahas sesuatu yang tidak ia tahu, atau melakukan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan.

Sindrom ini meningkat karena tingginya penggunaan media sosial di tengah masyarakat. Mungkin bagi beberapa orang, kebiasaan yang mengarah pada gejala FOMO sudah dianggap normal.

Misalnya, remaja yang menyetir mobil sambil chatting di media sosial, dapat membahayakan dirinya dan orang lain, namun seakan tidak peduli karena terlalu asik berselancar di dunia maya. Contoh lainnya, sepasang kekasih yang saat berkencan malah sibuk dengan gadget masing-masing, karena merasa ada informasi menarik yang mungkin muncul.

Sindrom FOMO meningkatkan kekhawatiran seseorang bila menyaksikan orang lain yang terlihat lebih bahagia, meskipun belum sepenuhnya benar. Lalu, orang ini akan mendapat desakan untuk merasakan kepuasan yang lebih besar daripada orang-orang yang dilihatnya. Akhirnya, ia menjadi ingin terus terhubung dengan media sosial untuk mengetahui kegiatan orang lain.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan media sosial, informasi dapat lebih mudah diakses oleh siapapun. Mungkin tanpa sadar, kamu pernah iri dengan kehidupan teman-teman, selebritis, atau influencer yang ditampilkan media sosial.

Photo by Eaters Collective on Unsplash

Jalan-jalan mewah, menggunakan barang bermerk, makan di tempat mahal, dan sejumlah kegiatan lainnya. Ya, hidup seseorang memang dapat dirancang seakan-akan sempurna.

Terbiasa melihat unggahan media sosial milik orang lain yang seakan-akan tidak memiliki cela, menimbulkan dampak baru. Seseorang akan memiliki kecenderungan mengukur standar hidupnya berdasarkan tampilan media sosial para artis atau influencer yang diikuti.

Selain itu, pengaruh media sosial menjadikan semakin banyak orang (terutama remaja)  menggunakan internet sebagai sarana untuk membentuk identitas diri.

Dari mengunggah sesuatu, ia bisa mendapatkan komentar atau like di akun miliknya, yang mana respon ini dianggap sebagai reward. Hormon dopamine muncul, reward berulang, keinginan untuk terus menunjukkan hal-hal menarik pun semakin tinggi.

Mirisnya adalah ketika respon yang diharapkan tidak sesuai harapan. Bagaimana dampaknya?

Salah satu dampaknya adalah permasalahan gangguan kesehatan mental. Depresi menjadi rentan terjadi, karena seseorang akan beranggapan bahwa tidak ada yang menyukai dirinya. Perasaan sedih, frustasi, dan stres mulai muncul bila dihadapkan dengan hujatan, cacian, atau sesederhana jumlah likes yang sedikit.

Sebagai populasi terbesar dengan kebiasaan mengakses internet yang tinggi, remaja memang rentan terkena sindrom FOMO.

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Menurut penelitian Darlene McLauhlin, asisten professor Texas A&M Health Science Center College of Medicine, gangguan FOMO banyak terjadi pada generasi milenial atau mereka yang lahir tahun 1980-an sampai 1990-an.

Bagaimana dengan generasi setelahnya? Tentu kemungkinannya lebih besar lagi, karena kecanggihan teknologi yang semakin meningkat.

Wajar rasanya jika FOMO dirasakan oleh banyak anak muda, karena penelitian di Amerika membuktikan 24% remaja menghabiskan waktu untuk smarphone dengan durasi 8 – 10 jam perharinya. Tak berbeda jauh, di Indonesia juga nampaknya sangat mudah menemukan remaja yang kecanduan bermain gadget.

Gejala Sindrom FOMO

Seperti apa gejala-gejala orang yang memiliki sindrom FOMO? Apakah kamu termasuk salah satunya?

Susah Melepaskan Smartphone

Tanda pertama, saat kamu tidak bisa melepaskan kebiasaan untuk memegang ponsel. Mengapa? Ketika kamu terkena sindrom FOMO, kamu akan merasakan khawatir atau cemas berlebihan bila tidak memegang ponsel, bahkan hanya untuk beberapa menit saja.

Rasanya, kamu sudah kehilangan banyak momen dan berita baru jika dalam sehari meninggalkan ponsel di rumah. Kamu juga menjadi selalu ingin terhubung dengan jaringan internet, demi mengetahui kehidupan orang lain di media sosial.

Terlalu Kepo dengan Hidup Orang Lain

Kamu menjadi sangat penasaran dengan hidup orang lain akibat rasa cemas saat ketinggalan informasi. Bukan hanya public figure yang sudah terkenal saja, namun kamu juga terlalu peduli pada kehidupan teman-temanmu.

Dampaknya adalah kamu jadi ingin mengetahui detil terkecil kehidupan orang lain, lalu kemudian membandingkannya dengan dirimu. Akhirnya, kamu menjadi tidak bersyukur dan sering merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki.

‘Mendewakan’ Kehidupan Dunia Maya

Tanda berikutnya, kamu terlalu mementingkan kehidupan di media sosial dibandingkan dunia nyata. Ada urgensi untuk tampil eksis dan bergaya demi terlihat sempurna dan mendapat pujian dari orang lain.

Lama-kelamaan, kamu bisa tidak peduli dengan kehidupan sosial di dunia nyata, dan menganggap pengakuan orang di media sosial adalah hal terpenting.

Mengorbankan Diri Demi Pengakuan

Berkaitan dengan hal sebelumnya, kamu terpaksa untuk mengorbankan sejumlah hal demi mewujudkan eksistensi diri di media sosial. Misalnya, kamu rela merogoh kocek atau menghabiskan uang tabungan untuk membeli tas mahal yang sedang ngetren di media sosial.

Dengan alasan tas ini juga dimiliki teman-temanmu, kamu tidak mau ketinggalan dan tidak ingin dianggap norak. Padahal, uangnya bisa kamu gunakan untuk hal lain yang lebih penting seperti keperluan kuliah.

Lalu, bagaimana jika sindrom FOMO tidak dihentikan?

Dampak Buruk Akibat FOMO

Photo by Aarón Blanco Tejedor on Unsplash

Jika terus-menerus terjadi, gangguan FOMO dapat memengaruhi kesehatan fisik dan psikologis seseorang. Rasa cemas dan takut berlebihan bisa memicu depresi dan stress.

Selain itu, kamu menjadi rentan merasakan pusing, mual, sulit konsentrasi, bahkan sulit tidur nyenyak. Tentunya hal ini akan berdampak buruk pada kesehatan tubuhmu dalam jangka panjang.

Hubungan sosialmu dengan orang lain terutama di dunia nyata menjadi terganggu. Kebahagiaan yang kamu dapatkan dari eksistensi di media sosial hanya bersifat sementara, karena tampilan ‘luar’ seseorang juga dapat dengan mudah dipalsukan.

Terakhir, urusan keuanganmu juga bisa terkena dampaknya. Dengan alasan seperti kamu ingin mengikuti tren, menyesuaikan diri dengan teman, atau mendapat pengakuan, kamu bisa mengorbankan diri untuk hal yang tidak perlu.

Nah, sudah lebih paham kan mengenai apa itu FOMO? Tentu tak masalah menggunakan media sosial apalagi untuk hal-hal bermanfaat, namun gunakan sewajarnya saja.

Yuk, mulai perbaiki kebiasaan yang kurang baik di media sosial! Jangan sampai diperdaya oleh sindrom Fear of Missing Out ini ya.

Mengenal “Bias Negatif dalam Berpikir”

  ·   2 min read