Hal yang Salah Dari Toxic Masculinity

Written by Shafira Annisa Putri

Sedari kecil seorang anak lelaki pada umumnya diajarkan untuk tidak menunjukan sisi emosionalnya. ‘Anak laki-laki nggak boleh nangis’ atau ‘Laki-laki harus kuat’ dilontarkan para orang tua kepada anaknya. Jika pun anak laki-laki menunjukan sisi emosionalnya, mereka dicap dengan konotasi negatif kalau mereka bertindak seperti seorang wanita.

Tanpa disadari oleh banyak orang tua, norma ini dapat menjadi akar dari berbagai permasalahan yang cukup serius saat anak tersebut sudah tumbuh dewasa.

Menjadi Seorang Laki-Laki Sejati

Photo by Luke Porter on Unsplash

Dilansir dari tolerance.org, toxic masculinity dapat didefinisikan menjadi:

'Sebuah deskripsi yang sempit mengenai kejantanan, di mana kekuatan adalah segalanya sementara emosi adalah sebuah kelemahan. Seks, tindakan brutal/kasar adalah kriteria dimana menjadi seorang laki-laki sejati diukur.'

Ketika menghadapi sebuah situasi emosional berat seperti kehilangan seorang anggota keluarga, laki-laki pun seringkali tetap dituntut untuk memenuhi standar kejantanan. Untuk tidak menangis, menjadi panutan dalam keluarga dan melupakan emosi itu dengan mudah.

Di kehidupan sehari-hari sampai dengan berbagai media seperti film, standar kejantanan ini dapat ditemukkan dengan mudah.

Masalah Dari Standar Kejantanan Ini

Photo by Marcos Paulo Prado on Unsplash

Lalu apa yang menjadi masalah mengenai standar ini? Banyak.

Menurut American Psychological Association (APA) laki-laki yang dipaksa untuk mengikuti standar kejantanan ini dapat menghambat mereka untuk menemukan apa arti menjadi seorang laki-laki menurut diri mereka sendiri.

Disebutkan juga bahwa ada bukti bahwa standar kejantanan  untuk melakukan tindakan brutal/kasar, meningkatkan resiko anak laki-laki untuk lebih membantah pada peraturan sekolah, menghadapi tantangan secara akademis bahkan menghadapi masalah kesehatan karena penyalahgunaan obat terlarang.

Iya, semua itu hanya karena ingin diakui sebagai seorang laki-laki sejati.

Perubahan Persepsi

Photo by memet saputro on Unsplash

Memang tidak akan mudah untuk mengubah standar kejantanan ini dalam satu malam. Tidak mudah juga untuk mengedukasi orang tua,pengasuh dan wali untuk sadar dan menghindari perkataan yang menuju kepadanya.

Hal yang bisa dilakukan saat ini adalah sadar bahwa standar ini dapat menjadi akar dari berbagai masalah saat seorang anak laki-laki sudah menjadi dewasa. Emosi merupakan hal yang wajar. Kucing saja berbeda satu sama lainnya, mengapa seorang manusia harus memenuhi suatu cetakan yang sama?

Jika tidak bisa mengubah dunia, coba untuk ubahlah diri sendiri. Ternyata selama ini benar yang dinyanyikan oleh trio band anak Ahmad Dhani The Lucky Laki, ‘Aku bukanlah Superman, aku juga bisa nangis’.

Referensi:
Clemens, C. (2017, December 11). What We Mean When We Say, "Toxic Masculinity". Retrieved August 03, 2020, from https://www.tolerance.org/magazine/what-we-mean-when-we-say-toxic-masculinity

Salam, M. (2019, January 22). What Is Toxic Masculinity? Retrieved August 03, 2020, from https://www.nytimes.com/2019/01/22/us/toxic-masculinity.html