Opini

Indonesia Marak Kekerasan Seksual : Saatnya Kita Melek

Written by Adrianus Sukanto

Kasus kekerasan seksual di Indonesia marak terjadi setiap tahunnya. Sebagian besar kasus kekerasan seksual memang terjadi pada perempuan. Namun pada kenyataannya, kasus kekerasan seksual juga terjadi pada laki-laki dan anak-anak.

Kekerasan seksual juga dapat terjadi dimana saja, tidak mengenal tempat, termasuk di tempat kerja atau institusi pendidikan. Fenomena ini membuktikan bahwa Indonesia terlihat tidak serius menangani kasus kekerasan seksual. Hal ini tentu menimbulkan perasaan khawatir dan cemas, terutama pada kaum perempuan.

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual terus mengalami peningkatan. Sejak tahun 2008 hingga 2019, kasus kekerasan seksual mengalami peningkatan sebesar 792%. Dengan kata lain, peningkatan signifikan ini mengalami peningkatan 8 kali lipat sejak 2008 silam.

Dilansir dari Kompas.com, pada tahun 2019, Komnas Perempuan mencatat bahwa terdapat 431.371 kasus kekerasan seksual. Bahkan, Komnas Perempuan mengklaim bahwa jumlah kasus pada tahun 2019 meningkat sekitar 6% dibandingkan pada tahun 2018.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) juga merilis jumlah korban kekerasan seksual yang telah berhasil dilindungi oleh LPSK sejak 2014 hingga 2019. Berdasarkan data tersebut, tercatat terdapat 901 korban yang berhasil dilindungi oleh LPSK (Santoso, 2020). Namun, jika melihat jumlah kasus kekerasan seksual yang terjadi, maka jumlah korban yang berhasil dilindungi terlihat sangat sedikit.

Kasus kekerasan seksual juga dialami oleh anak-anak. Pada tahun 2019 lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa terdapat 21 kasus kekerasan seksual yang dialami oleh anak.

Dari 21 kasus kekerasan seksual tersebut, KPAI menyatakan bahwa terdapat 123 anak yang menjadi korban dalam kasus ini, dengan 71 anak perempuan dan 52 anak laki-laki. Kasus kekerasan seksual pada anak ini terjadi di berbagai jenjang, dari jenjang SD hingga perguruan tinggi (Muflihah, 2020).

Data ini menguatkan argumen bahwa kekerasan seksual dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja, tanpa memandang umur dan jenis kelamin.

Dampak Kekerasan Seksual

Dampak kekerasan seksual dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental bagi korban. Dilansir dari idntimes, adapun beberapa dampak yang dapat terjadi pada korban yaitu:

Stres atau Depresi

Stres diyakini menjadi dampak pertama yang mungkin akan dirasakan oleh korban kekerasan seksual. Adanya keraguan untuk melapor diyakini menjadi pemicu stres bagi korban. Stres juga diyakini sebagai dampak yang paling sering dialami oleh korban kekerasan seksual. Jika stres tersebut tidak segera diatasi, maka tidak menutup kemungkinan korban akan mengalami depresi.

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Dampak lain yang mungkin dapat terjadi pada korban kekerasan seksual adalah trauma. Dengan kata lain, trauma yang dialami oleh korban merupakan post traumatic stress disorder (PTSD). Korban yang mengalami PTSD ini diyakini mengalami dampak 4 kali lebih buruk dibandingkan dengan trauma pada umumnya.

Meningkatknya Tekanan Darah

Tekanan darah yang meningkat merupakan saah satu dampak yang memengaruhi kesehatan fisik. Dampak ini dapat terjadi karena adanya psikosomatik, di mana buruknya kesehatan psikis memengaruhi kesehatan fisik seseorang. Selain kesehatan psikis, stres yang dirasakan korban juga diyakini menjadi pemicu dari meningkatnya tekanan darah.

Sakit Jantung

Dampak yang satu ini merupakan salah satu dampak yang mungkin tidak langsung dirasakan oleh korban. Tidak menutup kemungkinan korban akan mengalami dampak ini walaupun korban sudah mendapatkan penanganan yang tepat. Adapun sakit jantung dapat dialami oleh korban karena dipicu dari tekanan darah yang meningkat.

Bunuh Diri

Terakhir, kekerasan seksual dapat mendorong korban untuk melakukan upaya buuh diri. Menurut LiveScience, sebesar 23% korban dari kekerasan seksual telah mencoba untuk melakukan bunuh diri. Dampak yang satu ini merupakan dampak terburuk yang mungkin terjadi.  

Mengapa Kasus Kekerasan Seksual Semakin Meningkat?

Seperti yang kita ketahui, masih banyak korban kekerasan seksual yang memilih bungkam. Hal tersebut lantaran banyak orang yang menyerang korban dengan bahkan memposisikan korban sebagai pihak yang bersalah dengan alasan seperti penggunaan pakaian, melebih-lebihkan keadaan, hingga dianggap korban menuduh pelaku tanpa bukti.

Korban yang memilih untuk bungkam cenderung menyebabkan pelaku merasa aman dengan sehingga pelaku merasa aksi menyimpangnya tidak akan diketahui orang lain bahkan dapat mengulanginya lagi. Hal ini tentu semakin memperparah keadaan. Bagaimanupun ketika mengetahui kasus kekerasan seksual, sudah seharusnya kita berempati  dan mendukung korban.

Sisi lain yang perlu kita lihat adalah peraturan dari pemerintah yang dinilai lemah dalam menanggapi kasus kekerasan seksual di Indonesia. Pemerintah perlu berbenah dan bertindak tegas mengingat banyak kasus kekerasan seksual yang diselesaikan dengan cara kekeluargaan.

Dalam mengatasi hal ini, baik masyarakat atau pemerintah perlu melihat kekerasan seksual dari perspektif yang berbeda, di mana kasus ini bukanlah kasus sepele. Memang, kasus seperti ini mungkin hanya menyangkut dua pihak, yaitu pelaku dan korban. Jika kita bersikap apatis, mungkin kita akan merasa bahwa kasus kekerasan seksual yang dialami orang lain tidak akan memengaruhi kita.

Namun, dengan data yang membuktikan bahwa kasus kekerasan seksual terus meningkat setiap tahunnya, bukankah hal tersebut telah menjadi ancaman untuk kita dan orang terdekat kita?


Kontak Komnas Perempuan

Jika kamu mengalami kekerasan seksual dan membutuhkan bantuan, kamu dapat menghubungi:

Telp: 021-3903963 / 021-3915520

Referensi

Apriyani, T. (2020, Maret 26). Kasus Kekerasan  Seksual: Siapa yang lemah? Perempuan atau Peraturan? Retrieved from  suara.com:  https://www.suara.com/yoursay/2020/03/26/131506/kasus-kekerasan-seksual-siapa-yang-lemah-perempuan-atau-peraturan

Muflihah. (2020, Maret 23). Indonesia Darurat Kekerasan  Seksual, Pemerintah Harus Segera Bertindak. Retrieved from suara.com:  https://www.suara.com/yoursay/2020/03/23/144637/indonesia-darurat-kekerasan-seksual-pemerintah-harus-segera-bertindak

Namira, I. (2020, Februari 26). Dampak Pelecehan Seksual  pada Kesehatan Fisik dan Psikis Korbannya. Retrieved from idntimes:  https://www.idntimes.com/health/fitness/izza-namira-1/dampak-pelecehan-seksual-1/5

Purnamasari, D. M. (2020, Maret 6). Catatan Komnas  Perempuan, 431.471 Kasus Kekerasan Terjadi Sepanjang 2019. Retrieved from  Kompas.com:  https://nasional.kompas.com/read/2020/03/06/15134051/catatan-komnas-perempuan-431471-kasus-kekerasan-terjadi-sepanjang-2019?page=1

Santoso, B. (2020, Mei 14). Komnas: Tiap 2 Jam, 3  Perempuan Indonesia Alami Kekerasan Seksual. Retrieved from suara.com:  https://www.suara.com/news/2020/05/14/043837/komnas-tiap-2-jam-3-perempuan-indonesia-alami-kekerasan-seksual

Mengenal “Bias Negatif dalam Berpikir”

  ·   2 min read