Kadang Kita Juga Bersikap Rasis, Lho!

Written by Chairul Rachman Ramadhan

Baru-baru ini, isu rasisme cukup hangat dibicarakan khususnya di dunia virtual. Rasisme sendiri memang menjadi polemik yang rasanya dapat ditemukan dimana-mana. Meledaknya ketegangan terhadaap rasisme berpuncak pada terbunuhnya George Floyd, seorang pria berkulit hitam di Amerika Serikat oleh seorang polisi dengan cara yang tidak manusiawi.

Informasi mengenai kejadian tersebut pun dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Gelombang protes pun meluas dari Amerika Serikat sendiri dan negara-negara lainnya yang mengutuk tindakan rasisme.

Di Indonesia sendiri, banyak influencer yang ikut menyoroti isu tersebut dan tergerak untuk mendukung kampanye untuk memerangi rasisme. Dengan kekuatan sosial media, mereka menyebarkan seruan-seruan untuk lebih peduli terkait isu rasisme.

Sama halnya seperti di Amerika, Indonesia sendiri pun memiliki permasalahan terkait rasisme yang dapat dilihat dari kasus diskriminasi terhadap rakyat papua. Namun tidak hanya itu saja, ternyata masih banyak bentuk rasisme yang secara tidak sadar kita lakukan sehari-hari.

Rasisme sendiri dapat diartikan sebagai suatu tindakan diskriminasi yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang dengan ras tertentu kepada ras lain yang dianggap lebih rendah yang dapat berujung pada perlakuan buruk berupa kekerasan. Hal ini tentu dapat memicu rusaknya hubungan sosial antarmanusia.

Movement untuk melawan rasisme cukup banyak digaungkan akhir-akhir ini. Terutama rasisme terhadap warna kulit, seperti halnya yang terjadi di Papua dan Amerika Serikat juga tempat - tempat lain di dunia.

Sebenarnya, tindakan rasisme bisa secara tidak sadar kita lakukan karena hal tersebut sudah mengakar pada kehidupan kita. Tontonan dalam televisi maupun media lainnya cukup banyak memengaruhi alam bawah sadar kita untuk mengelompokkan dan memberi cap bagi golongan tertentu.  

Beberapa contoh tindakan rasis yang seringkali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari diantaranya yaitu

Memanggil dengan nama daerah

Beberapa dari kita tentunya memiliki teman yang berasal dari luar daerah tempat tinggal kita. Disaat ada teman yang memiliki kulit gelap dan memiliki paras khas ketimuran, entah siapa oknum yang mengawalinya, biasanya dipanggil 'Ambon' atau 'Papua'.

Tindakan tersebut dilakukan baik secara langsung untuk menjadi panggilan sehari-hari atau sekedar candaan tanpa sepengetahuan orang tersebut. Kasus seperti ini biasanya terjadi bagi teman kita yang berasal dari Indonesia Timur.

Selain itu, banyak kata lainnya yang diidentifikasikan dengan nama daeran dan berkonotasi kurang baik seperti "Jamet" yang berarti "Jawa Metal" dan yang lainnya.

Hal tersebut bisa saja dimaklumi oleh yang bersangkutan karena kedekatan sebagai teman. Tetapi, bila kita tetap memelihara kebiasaan tersebut, akan ada kemungkinan kita untuk melakukan tindakan tersebut kepada orang lain walau dalam pikiran sekalipun.

Memberi stigma karena ras

Seringkali, kita menganggap seseorang merupakan pribadi yang memiliki sifat tertentu hanya karena ia berasal dari satu ras tertentu. Hal ini merupakan srigma yang lahir dari masyarakat sendiri.

Misalnya, kita menganggap ras Cina merupakan orang-orang yang pelit, atau suku Batak merupakan orang-orang yang keras dan suka marah. Hal-hal seperti ini merupakan kebiasaan yang sudah seharusnya kita kurangi dan hapuskan. Karena tidak semua prasangka berdasarkan ras tersebut benar adanya.

Memberi perlakuan beda terhadap orang dari Indonesia Timur

Diskriminasi rasial sendiri memang sering terjadi di kehidupan masyarakar, terutama dalam lingkungan kampus. Terkadang, mahasiswa yang berasal dari Indonesia Timur mendapat perlakuan yang berbeda hanya karena perbedaan ras dan warna kulit.

Contohnya, pengalaman yang dialami teman penulis, ia mengalami kesulitan saat mencari rumah kos disekitar kampusnya. Alasan pemilik kos karena rumah kos tersebut sudah terisi penuh, padahal di depannya terpasang papan "Masih ada kamar kosong".

Stigma masyarakat terhadap orang Timur cenderung negatif, mereka dipandang rusuh, suka berkelahi, dan label negatif lainnya. Padahal, hal tersebut belum tentu benar karena setiap orang tentunya memiliki sifat dasar yang berbeda.

Begitu banyak bentuk diskriminasi yang dialami oleh orang Timur dan tanpa kita sadari hal tersebut merupakan salah satu tindakan rasis. Diskriminasi sendiri dapat berawal dari prasangka dan pemikiran, oleh karena itu walaupun hanya dalam pikiran, kebiasaan berpransangka buruk tersebut harus kita hilangkan.

Sudah seharusnya kita sebagai manusia dapat bersikap bijak dan dapat menerima segala perbedaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Karena pada dasarnya, tidak ada satupun manusia yang memilih untuk dilahirkan dari suku apa, akan terlahir dengan agama apa, atau termasuk dari golongan ras apa.

Seluruh kebiasaan yang tanpa kita sadari merupakan tindakan rasis pastinya akan berpengaruh pada sikap kita saat menghadapi orang lain yang berbeda dengan kita. Tindakan rasis dapat menjadi bibit kebencian dan nantinya akan menjadi pembenaran untuk kita tidak berlaku adil bagi manusia lainnya.

Mari kurangi kebiasaan buruk tersebut agar kita lebih bisa menghargai hidup baik diri kita dan orang lain!