Bisnis, Work

Karyawan vs Pengusaha, Pilih yang Mana?

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini

"Lulus kuliah nanti, mau jadi apa ya?”

“Kerja kantoran pemasukannya stabil, kalau berbisnis belum pasti, tapi bisa jadi lebih besar”

Pernahkah kamu berpikir tentang hal ini? Tentu pernah, dong. Sudah sewajarnya kedua pilihan tersebut ditimbang-timbang, apakah sesuai dengan dirimu atau tidak.

Setelah menyelesaikan studi, kamu akan mencari kegiatan yang dapat menopang kehidupan. Tentu tujuan setiap orang berbeda, mungkin ada yang mau melanjutkan pendidikan, menikah dan membangun keluarga, melanjutkan usaha orang tua, atau dua pilihan di awal tadi. Memulai usaha sendiri atau menjadi pekerja kantoran.

Menjadi pengusaha atau karyawan, tentu memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing. Dengan menjamurnya start-up belakangan ini, semakin banyak anak muda yang tertarik untuk menjadi pengusaha atau pebisnis.

Sebagian orang menganggap bahwa menjadi pengusaha akan lebih menguntungkan, dari segi waktu, penghasilan, dan lain-lain. Namun di satu sisi, para penganut atau yang sudah merasakan kerja kantoran, menolak hal tersebut. Kestabilan dan risiko yang tinggi menjadi alasan mereka.

Namun kenyataannya, tidak selamanya kerja kantoran atau bisnis sendiri itu selalu enak. Kedua jenis profesi ini memiliki kelebihan tersendiri, tergantung bagaimana kamu yang menjalaninya. Kamu bisa mulai menentukan pilihan dengan mencari tahu lewat internet atau bertanya pada orang-orang di sekitarmu.

Lalu, apa sih perbedaan antara karyawan dan pengusaha? Simak penjelasannya berikut ini.

Penghasilan: Digaji vs Menggaji

Photo by NeONBRAND on Unsplash

Dari segi penghasilan, seorang pekerja kantoran akan mendapatkan sumber pemasukan yang lebih pasti. Jika kamu memilih profesi ini, kamu tidak perlu memusingkan pemasukan karena sudah pasti akan menerima gaji dengan jumlah tetap setiap bulannya.

Namun, kamu harus menerima bahwa angka itu relatif tidak akan meningkat, kecuali kantor sering memberikan bonus tertentu atau kamu memiliki kerja sampingan.

Berbeda dengan pengusaha, pemasukannya bisa naik-turun setiap bulan. Tentu kamu harus siap struggle di awal memulai usaha, karena seringkali keuntungannya belum menentu. Meski keuntungan masih sedikit, kamu harus mengorbankan keuntungan pribadi demi menggaji karyawan (bila sudah ada).

Kabar baiknya, pengusaha memiliki peluang untuk menghasilkan keuntungan sangat besar jika bisnisnya melesat.

Waktu Kerja: Jam Kantor vs Fleksibel

Photo by Lukas Blazek on Unsplash

Sebagai karyawan yang bekerja dalam suatu perusahaan, tentu ada sistem yang harus diikuti. Kamu tidak bisa seenaknya pulang dan pergi ke kantor, karena ada jam kerja yang telah ditentukan sebelumnya. Jam kerja ini bisa memiliki dampak berbeda bagi individu.

Satu sisi, karyawan akan lebih disiplin dan tau batasan agar kinerja mereka tetap baik. Di sisi lain, mereka tidak leluasa untuk menentukan kehidupan mereka. Tentu ada sanksi yang diberikan bila tidak mematuhi jam kerja tersebut.

Tidak berlaku untuk pengusaha, mereka memiliki jam kerja yang relatif fleksibel. Kamu bebas menentukan waktu datang dan pergi ke kantor, namun hal ini menimbulkan tantangan tersendiri.

Jika kamu kurang bisa mengatur waktu dengan baik, ketiadaan aturan jam kerja bisa membuatmu kurang terpacu untuk disiplin. Atau sebaliknya, di awal-awal membangun usaha, kamu bisa bekerja dengan jam yang sangat berlebihan, hingga nyaris susah tidur.

Fasilitas: Disediakan vs Menyediakan

Photo by Scott Webb on Unsplash

Bekerja di perusahaan berarti kamu akan mendapatkan fasilitas kantor, seperti perlindungan asuransi kesehatan, jaminan masa tua, fasilitas di kantor, perjalanan dinas, dan lain-lain. Jika karyawan sakit atau membutuhkan sesuatu, kantor siap menyediakan sejumlah fasilitas.

Jika kamu memilih jalan sebagai pengusaha, kamu yang akan menyediakan berbagai fasilitas itu untuk dirimu sendiri dan karyawan perusahaan. Seorang pengusaha memiliki tanggung jawab penuh untuk mengatur fasilitas tersebut sesuai apa yang direncanakannya.

Pola Kerja: Mengikuti vs Merancang

Photo by Estée Janssens on Unsplash

Pekerja kantoran akan mengikuti target-target perusahaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Target tersebut ada dalam bentuk harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan.

Meski terkadang target itu tidak sesuai dengan keinginanmu, kamu tetap harus menyelesaikannya. Karena jika tidak mampu memenuhi ekspektasi perusahaan, kamu bisa dinilai tidak kompeten dan siap-siap saja untuk kehilangan pekerjaan.

Berbeda halnya dengan pengusaha. Sebagai bos atau atasan bagi diri sendiri, kamu akan mendapat tuntutan untuk menjadi mandiri. Merancang target perusahaan, menyusun tujuan dan deskripsi kerja, serta banyak lagi lainnya.

Memang lebih menyenangkan memiliki hak penuh untuk mengatur perusahan, namun tetap tidak boleh berbuat semaunya. Jika seorang pengusaha tidak mampu mengelola target dan tujuan perusahaan dengan baik, usaha yang dibangun bisa hancur.

Risiko: Dipecat vs Bangkrut

Photo by Gez Xavier Mansfield on Unsplash

Sebenarnya, kedua jenis profesi ini memiliki risiko yang sama besar.

Bagi karyawan, risiko yang harus ditanggung adalah jika suatu saat terjadi PHK atau dipecat karena masalah pribadi. Alasannya pun beragam dan seringkali tidak terduga. Misalnya suatu ketika perusahaan mengalami kerugian, performamu dianggap kurang, atau hal-hal lainnya.

Meski ada kontrak kerja, kamu tidak bisa bersantai dan menerima apa adanya. Sebagai karyawan, penting juga untuk menginvestasikan biaya dan waktu pada hal lain untuk mengurangi risiko ini.

Sementara, pengusaha juga memiliki risiko besar. Meski setelah berjalan sekian atau bahkan puluhan tahun dan berjaya, perusahaan milikmu bisa saja tiba-tiba collapse. Menjadi pengusaha berarti kamu siap menanggung sejumlah kerugian bila usahamu tidak berjalan sesuai harapan.

Risiko terbesar dari bangkrut adalah bila kamu meninggalkan hutang yang banyak namun harus tetap membayar pesangon karyawan. Namun jangan salah, seorang pengusaha memiliki mental yang biasanya lebih kuat.

Meski mengalami jatuh-bangun, jiwa pengusaha sesungguhnya akan terus terpacu untuk membangun bisnis baru dan tidak akan mudah menyerah.

Nah, sudah paham kan apa saja kelebihan dan kekurangan sebagai karyawan atau pengusaha?

Menurut saya pribadi, kedua profesi ini memiliki bobot yang cukup seimbang. Untuk memilih kerja sebagai karyawan atau pengusaha, kamu bisa menyesuaikannya dengan minat dan kemampuanmu.

Ada orang yang tidak memiliki bakat dalam berbisnis, namun sangat cocok untuk menekuni profesi yang ia jalani. Orang ini akan lebih berkembang dan melejit jika ada di bawah pengawasan orang lain. Bila dipaksakan untuk memulai bisnis sendiri, belum tentu ia akan nyaman dengan tantangan yang harus dihadapi.

Namun ada juga orang yang sangat ahli dalam berbisnis, tidak suka terkekang, maka dari awal berkarir ia tidak akan cocok bekerja di perusahaan. Orang ini akan merasa lebih maksimal dan tertantang dalam hidupnya saat harus membangun sesuatu dari nol. Tentunya ada kepuasan sendiri yang didapat jika berhasil mengembangkan perusahaan dan menyejahterakan orang lain.

Menjadi pekerja kantoran atau pengusaha, tak masalah. Intinya adalah untuk selalu menjadi yang terbaik dalam bidang apapun!

Perbandingan Personal Brand vs Corporate Brand

  ·   5 min read