Opini

Mengulas Korean Pop: Dari Hiburan Sampai Soft Power Diplomacy

Written by Shafira Annisa Putri

Pernahkah kamu mendengar istilah K-Pop?

K-Pop atau Korean Pop bukanlah hal yang asing lagi didengar di telinga masyarakat Indonesia. K-Pop merupakan genre musik populer yang berasal dari Korea. K-Pop sendiri ialah salah satu dari Korean Wave yang menyebar ke berbagai wilayah Asia bahkan Eropa dan Amerika.

Selain musik, gaya pakaian, film hingga serial televisi pun tak jarang kini telah didominasi oleh pasar pop Korea. Baik kamu penggemar K-Pop atau bukan, ada banyak hal yang dapat dipelajari dari budaya populer Korea ini.

Awal Perkembangan

Photo by Joel Muniz on Unsplash

Awal mula perkembangan Korean Pop dapat ditelusuri kembali pada munculnya sebuah grup hip hop bernama Seo Taiji & Boys. Grup yang muncul pada tahun 1992 ini pada masanya membuat sebuah gebrakan pada industri musik korea dengan lirik lagu yang penuh dengan kritikan dan membicarakan tentang kehidupan remaja selain percintaan.

Walaupun grup Seo Taiji & Boys tidak bertahan lama, mereka telah membuka pintu untuk berkembangnya berbagai budaya populer Korea lainnya. Sampailah pada tahun 2012 dimana sebuah video dari lagu yang berjudul Gangnam Style mengguncang dunia. Kemungkinan besar video ini pula lah yang membuat budaya pop korea semakin melesat.

Mencari Idola yang Terasa Personal

Photo from kpopchart.net

Pada suatu titik, standar kecantikan orang barat tidak terasa personal lagi. Di sinilah para selebritas atau public figure Korea berpengaruh sebagai suatu alternatif terhadap standar kecantikan tersebut.

Diluar standar kecantikan orang Korea yang cukup kontroversial, K-Pop sendiri menawarkan cara yang lebih mudah didekati untuk kecantikan. Contohnya, fitu-fitur idola K-Pop (selebriti populer K-Pop) dengan hidungnya yang tidak mancung, rambut hitam ataupun mata sipit dapat ditemukan di kehidupan sehari-hari masyarakat Asia.

Para remaja perempuan bahkan laki-laki dapat mengaplikasikan pakaian atau dandanan yang dipakai para idola K-Pop kepada diri mereka. Mereka melakukan identifikasi dengan mengintegrasikan ciri-ciri idola K-pop tersebut pada diri mereka.

Mengutip sebuah kalimat oleh Martin Scorsese yang diucapkan oleh Bong Joon-ho pada malam nonimasi Grammy, ‘The Most Personal Is The Most Creative’.

Soft Power Diplomacy Dari K-Pop

Photo by Mathew Schwartz on Unsplash

Dilansir dari foreignaffairs.com, soft power merupakan kemampuan suatu negara membujuk orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya tanpa paksaan atau kekuatan militer.

Soft power umumnya dilakukan melalui media dan budaya. Tentu saja serial drama Korea yang ditayangkan di saluran TV nasional tidak akan menghilangkan seluruh permasalahan antar negara. Namun, ini dapat menjadi suatu hal yang dapat mempromosikan perdamaian dan membangun sentimen dalam masyarakat.

K-Pop dengan cara tertentu merupakan upaya Korea dalam mempengaruhi masyarakat dunia, khususnya Asia, termasuk Indonesia. Pemikiran-pemikiran populer di Korea perlahan-lahan diterima oleh masyarakat dunia. Belum lagi membicarakan tentang keuntungan yang didapatkan Korea Selatan dengan mendominasi pasar melalui produk-produk K-Pop.

Masih banyak hal lainnya yang dapat dipelajari dari berkembangnya budaya pop satu ini secara lebih luas dan mendalam. Namun, dapat diambil pelajaran dari K-Pop bahwa hal yang personal akan mempunyai suatu kekuatan yang besar pada diri seseorang. Mendukung perkembangan budaya tentunya bukanlah suatu ide yang buruk untuk dicoba.

Referensi
Campbell, J., Kurlantzick, J., Ayres, A., Felter, C., & Reynolds, G. (2020, June 03). Soft Power: The Means to Success in World Politics. Retrieved June 12, 2020, from https://www.foreignaffairs.com/reviews/capsule-review/2004-05-01/soft-power-means-success-world-politics

Mengenal “Bias Negatif dalam Berpikir”

  ·   2 min read