Lifestyle

Mengapa Kita Harus Berhati-hati Dalam Menggunakan Sosial Media?

Written by Adrianus Sukanto

“Bijaklah bermedia sosial”

“Jejak digital bahaya, lho

“Lebih baik hapus komentar/unggahan yang sensitif sebelum menjadi masalah untukmu”

Pernahkah kamu mendapatkan nasihat seperti itu? Atau mungkin kamu sendiri yang memberikan nasihat tersebut untuk orang lain?

Bila kamu pernah mendapatkan nasihat seperti itu, sebaiknya kamu mulai waspada. Mungkin kamu tidak berkeinginan menghiraukan nasihat tersebut karena kamu berpikir bahwa berkomentar di sosial media merupakan hak semua orang. Tidak ada yang salah dengan pemikiran tersebut. Namun, tujuan kita dalam menggunakan hak (yang kurang bijak) tersebutlah yang dapat membawa masalah.

Saat ini, media sosial cenderung menjadi sarana untuk “memamerkan” segala aspek kehidupan manusia, termasuk opini mengenai suatu hal. Ada kalanya kita ingin terdengar bijak dengan memberikan opini atau komentar terhadap informasi. Namun, komentar yang ingin disampaikan tidak selalu berupa komentar positif.

Hal tersebut juga berlaku ketika kita ingin mengungkapkan apa yang kita pikirkan di beranda media sosial kita. Tidak sedikit apa yang diunggah oleh pengguna sosial media berujung viral dan kontroversial.

Mungkin kamu berpikir bahwa unggahan status atau komentar negatif tidak akan menjadi masalah. Hal tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan. Apapun yang diperbuat oleh seseorang tentu dapat memengaruhi masa depan orang tersebut. Untuk menyadari hal tersebut, ada baiknya kamu memahami beberapa hal ini.

Jejak digital tidak pernah hilang

Mungkin sebagian besar pengguna sosial media akan berpikir jika ia menghapus apa yang sudah diunggah, maka masalah akan terselesaikan. Jika kamu merupakan salah satu dari orang tersebut, maka kamu harus mulai mengubah pola pikir tersebut.

Jejak digital tidak akan pernah hilang sepenuhnya, terlebih jika apa yang kamu unggah sudah terlanjur berujung viral. Hal tersebut akan sangat sulit untuk dihapus. Tentu akan sangat banyak pengguna sosial media yang berinisiatif mengambil tangkapan layar akan unggahan tersebut dan menyimpannya atau bahkan menyebarluaskannya kembali.

Satu unggahan status atau komentar dapat mengacaukan masa depan

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa jejak digital tidak akan hilang sepenuhnya. Jejak digital yang tersimpan akan dapat dilihat oleh orang lain kapan saja. Jejak digital juga akan terus melekat dengan dirimu sampai kapanpun dan akan memengaruhi masa depanmu, cepat atau lambat.

Hal tersebut telah terbukti pada salah satu kasus yang menimpa Angela Gibbins, seorang warga negara Inggris. Pada 2016 silam, Angela Gibbins dengan terpaksa harus menerima dirinya dipecat dari pekerjaannya. Hal tersebut lantaran Angela Gibbins diketahui telah mengunggah status di salah satu platform yang diduga menjelek-jelekkan Pangeran George. Walaupun ia sudah berusaha mengunci privasinya di platform tersebut, namun sudah banyak pengguna yang berhasil mengabadikan status tersebut.

Adanya Undang-Undang ITE

Seperti yang telah kita ketahui, pemerintah pernah merevisi UU ITE pada 2016 silam. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar masyarakat Indonesia dapat lebih bijak dan cerdas dalam beraktivitas di dunia maya. Selain itu, UU ITE juga menjadi perlindungan bagi masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan Internet.

Agar tidak membawa dampak buruk, ada baiknya kamu memahami hal apa saja yang tercantum di UU ITE. Beberapa hal yang terdapat di UU ITE antara lain konten asusila, pemerasan, pencemaran nama baik, pengancaman, penyadapan, perjudian, hoax, dan ujaran kebencian. Pelajarilah lebih lanjut mengenai UU ITE agar tidak berujung fatal bagi dirimu sendiri.

Setelah membaca dan memahami beberapa hal di atas, semoga kamu semakin sadar mengapa kita harus bijak dan cerdas dalam beraktivitas di dunia maya, terutama media sosial. Kamu juga dapat mengedukasi orang di sekitarmu agar semakin banyak pengguna yang cerdas dan bermedia sosial. Jika tidak dimulai dari dirimu, maka siapa lagi?

Referensi

7 Hal di UU ITE yang Wajib Kamu Tahu Agar Tak Bernasib Seperti Jonru. (2017, September 29). Retrieved from kumparan.com: https://kumparan.com/kumparannews/7-hal-di-uu-ite-yang-wajib-kamu-tahu-agar-tak-bernasib-seperti-jonru/full

Bujuk Rayu Bernama Sosial Media. (2019, Desember 21). Retrieved from majalah.tempo.co: https://majalah.tempo.co/read/financial-times/159390/dampak-penggunaan-medsos-untuk-kehidupan-kita

Galihardiansah, M. (2019, November 28). Berhati-hati dalam Bermedia Sosial. Retrieved from kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/galihimron/5dde9928d541df17be2e2cb2/berhati-hati-dalam-bermedia-sosial?page=all#sectionall

Meita, A. (2018, September 2). 5 Alasan Pentingnya Hati-hati Meninggalkan Komentar di Internet. Retrieved from idntimes.com: https://www.idntimes.com/life/inspiration/astrimeita185atgmailcom/5-alasan-pentingnya-hati-hati-meninggalkan-komentar-di-internet-c1c2/5

Stoicism: Cara Tepat Menghadapi 2020

  ·   3 min read

Video Sindrom TikTok: Sarkasme untuk Anak Muda

  ·   3 min read