Opini

Mengenal “Bias Negatif dalam Berpikir”

Written by Regina Gistansya

Kata 'negatif' dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki arti 'kurang baik atau menyimpang dari ukuran umum'. Kata negatif mengarah pada hal buruk, jelek atau bersifat merusak. Sementara kata 'bias', dilansir dari wikipedia didefinisikan sebagai kesalahan yang konsisten dalam memperkirakan sebuah nilai. Orang yang bias akan membuat penilaian berdasarkan persepsi mereka sendiri.

Maka dapat disimpulkan bahwa bias negatif dalam berpikir adalah ketika kita cenderung menilai suatu hal secara yang menyebabkan kita mengabaikan sifat baik yang mungkin saja terkandung di dalam hal tersebut.

Lalu apa yang terjadi pada diri kita ketika mengalami bias negatif dalam berpikir ?

Lebih mengingat hal-hal traumatis

Orang yang mengalami bias negatif dalam berpikir cenderung akan lebih mengingat kejadian-kejadian menakutkan yang membuat dirinya trauma, meskipun dalam hidupnya juga dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman bahagia.

Dilansir dari nnggroup.com hal tersebut dikarenakan otak kita cenderung memberikan penekanan lebih pada hal yang bersifat negatif, oleh karena itu kita mengesampingkan kebahagian-kebahagian yang sudah kita alami.

Lebih mengingat hinaan daripada pujian

Setiap manusia memiliki sisi baik dan buruknya sendiri, hal tersebut membuat manusia menuai pujian dan hinaan. Namun, ketika mengalami bias negatif kita hanya akan terfokus pada hinaan yang kita terima daripada pujian yang kita dapat, meskipun sebenarnya lebih banyak yang memberikan pujian.

Kita merasa terganggu dengan hinaan tersebut, terus-menerus memikirkannya tanpa memperhatikan pujian yang kita dapat.

Menerima dan meneruskan informasi dari sisi negatif

Manusia sebagai makhluk sosial tentu saja membutuhkan berinteraksi, salah satu contoh interaksi adalah ketika kita bertukar informasi dengan orang lain. Orang yang mengalami bias negatif  akan cenderung menyampaikan informasi dari sisi buruknya saja, baik informasi mengenai sifat seseorang atau perilaku seseorang dan lainnya. Selain itu, ketika seseorang memberinya informasi mereka akan lebih terfokus pada informasi negatifnya.

Contoh dari  bias negatif dalam berpikir

Agar kamu dapat lebih memahami mengenai bias negatif berikut contohnya dalam kehidupan sehari- hari:  Ketika mengingat masa kecilmu, kamu akan cenderung mengingat pengalaman-pengalaman buruk seperti ketika dimarahi oleh orang tua, jatuh dari sepeda, gagal meraih juara, atau ketika terkurung dalam ruangan gelap. Padahal masih banyak kenangan bahagia yang kamu alami ketika kecil.

Selanjutnya, ketika kamu bertengkar dengan seseorang teman, maka kamu cenderung hanya mengingat perilaku-perilaku buruk tentang temanmu. Seperti ketika dia berbohong, membentakmu, mencibirmu serta perilaku lainnya yang membuat kamu merasa sakit hati tanpa mengingat kebaikan yang sudah dia berikan padamu selama ini.

Contoh selanjutnya ialah ketika temanmu mengomentari berat badanmu sedangkan beberapa temanmu yang lain memberikan pujian menyebut dirimu cantik. Ketika mengalami  bias negatif, kamu cenderung akan mengingat hinaan dari pada pujian dan terus melihat suatu hal dari aspek negatif.

Bias negatif dalam kehidupan sehari-hari  juga dapat ditemui ketika seseorang menanyakan mengenai sifat temanmu, tak jarang kamu akan menyebut hal-hal negatif seperti dia pembohong, dia pemalas, dia suka menghina dan hal-hal lainnya yang telah membuat dirimu kesal. Kamu akan lebih senang membicarakan kejelekan-kejelakan orang lain dari pada kebaikannya.

Orang yang mengalami bias negatif  dalam berpikir akan selalu berprasangka buruk pada orang lain, sering merasa ragu pada diri sendiri atau orang lain, tidak mudah percaya, dan mudah overthinking sehingga berlarut-larut dalam kesedihan.

Nah, kalau kamu merasa dirimu mengalami bias negatif , mulai sekarang cobalah berubah. Mulailah menilai dan melihat sesuatu dari sisi positif, lupakan kesalahan orang lain, lupakan kenangan-kenangan burukmu, coba ingat-ingat peristiwa yang membuatmu bahagia.  Semoga bermanfaat!

Video Sindrom TikTok: Sarkasme untuk Anak Muda

  ·   3 min read