Opini, Lifestyle

Oniomania: Kebiasaan 'Gila' Belanja yang Membuat Rugi

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini

Apakah kamu pernah meluapkan emosi negatif dengan cara membeli barang-barang yang sebenarnya tidak perlu?

Contohnya, kamu pernah berbelanja banyak baju atau aksesoris untuk memuaskan diri setelah putus cinta atau berantem dengan orangtua?

Jika ya, inilah kondisi yang dinamakan sebagai Oniomania. Oniomania adalah penyakit terobsesi atau memiliki keinginan belanja yang sulit dikendalikan, atau shopaholic tingkat akut.

Dalam psikologi, sering disebut juga sebagai Compulsive Buying Disorder (CBD), yang merupakan jenis kecanduan perilaku (behavioral disorder) dan akhirnya memberikan dampak negatif.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan kegiatan berbelanja. Aktivitas ini perlu dilakukan setiap orang untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing.

Namun, masalah muncul saat seseorang tidak bisa mengendalikan dorongan saat berbelanja. Dengan menghabiskan terlalu banyak uang dan membeli barang-barang yang tidak diperlukan, tentu akan membawa dampak buruk seperti gangguan finansial.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi?

Menurut pernyataan Psikolog asal Amerika, Dr. Hindie M Klein, penyakit Oniomania sesungguhnya muncul karena seseorang berusaha melawan perasaan negatif yang dimiliki. Perasaan sedih, depresi, stres, marah, kesepian, dan lainnya dilawan dengan aktivitas berbelanja, karena menghasilkan kesenangan meski hanya sementara.

Biasanya, seseorang akan berusaha mengalihkan perasaan tidak nyaman dengan cara coping strategy untuk mengatasinya. Coping strategy ini berupa perilaku yang berlebihan, salah satu contohnya seperti berbelanja dengan kalap.

Namun, perilaku berlebihan ini tentu membawa dampak negatif baru, karena hanya menciptakan kebahagiaan sesaat. Cepat atau lambat, perasaan negatif seseorang akan muncul kembali.

Faktor Penyebab Oniomania

Photo by Freshh Connection on Unsplash

Apa sih yang menyebabkan seseorang menjadi Oniomania atau shopaholic?

Melampiaskan Stres atau Perasaan Negatif

Mengapa orang mengatasi rasa sedih, stress, atau tertekan dengan cara belanja?

Hal ini dilakukan karena produksi hormon endorphin dan dopamin yang ada dalam otak saat berbelanja. Rasanya, seolah-olah sangat menyenangkan bisa membeli barang-barang bagus dan memenuhi nafsu pribadi. Masalah yang tadinya muncul atau perasaan negatif dalam diri pun kerap kali hilang setelah berbelanja, padahal perasaan ini bersifat sementara.

Ingin Meningkatkan Nilai Diri

Sebagian orang mungkin menganggap bahwa berbelanja banyak dapat meningkatkan harga diri di mata orang lain. Bisa jadi juga, ada anggapan bahwa kualitas tinggi muncul saat seseorang mampu menghabiskan uangnya dalam jumlah besar.

Biasanya, pemikiran seperti inilah yang mendorong kita menjadi ‘gila’ berbelanja, karena semata-mata ingin meningkatkan diri, meski caranya tidak tepat.

Mudah Tergoda dan Sulit Mengontrol Diri

Selanjutnya, alasan seseorang dapat terjebak menjadi Oniomania adalah karena kontrol diri yang rendah. Sedikit-sedikit, kamu tertarik dengan barang yang lucu, atau terpengaruh dengan promo dan diskon.

Padahal, memang ada trik-trik khusus yang sudah direncanakan oleh pihak produsen demi meningkatkan daya beli konsumennya. Ingat, pikirkan kembali sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.

Membutuhkan Status dan Pengakuan

Terakhir, bisa jadi penyebab seseorang menjadi Oniomania adalah karena membutuhkan status atau pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Apalagi, jika kamu berada dalam pertemanan yang cenderung high class, kamu akan tergoda untuk berperilaku yang sama. Meski sedang tidak memiliki banyak uang, kamu menjadi terpaksa untuk belanja barang-barang yang tidak dibutuhkan demi terlihat mampu dan berkelas.

Ciri-Ciri Perilaku Oniomania

Photo by freestocks on Unsplash

Coba cek apakah kamu termasuk yang gila belanja atau bukan, ya?

Menghabiskan Uang di Luar Kemampuan

Pada awalnya, keuangan sudah kamu bagi-bagi untuk beberapa hal. Namun ternyata, sering kali pengeluaranmu jadi membengkak karena belanja barang-barang yang tidak begitu penting. Bahkan, kamu sampai berhutang pada teman dan keluargamu demi memenuhi kebutuhan belanja.

Saat Bad Mood, Belanja Menjadi Solusi

Apakah kamu pergi berbelanja setelah merasa sedih, stres, atau tertekan?

Kalau iya dan sering kamu lakukan, ini salah satu tanda kamu adalah shopaholic. Meski tidak membutuhkan barang tertentu, kamu akan melampiaskan emosi dengan cara menghambur-hamburkan uang. Menganggap solusi dari emosi negatif dapat diselesaikan dengan berbelanja secara kalap, bukan merupakan langkah yang tepat, ya.

Mudah Tergoda dengan Diskon

Ada diskon atau promo sedikit, kamu langsung tergoda untuk belanja. Padahal, diskon itu hanyalah trik tertentu yang sebenarnya tidak begitu menguntungkan konsumen. Tak masalah jika memang barang yang dibeli sedang dibutuhkan. Namun saat terlalu berlebihan sampai memborong semua diskon di mall, tentu tidak baik.

Tidak Nyaman Saat Tidak Belanja

Rasanya, tangan dan kakimu gatal bila dalam sehari atau seminggu tidak pergi berbelanja. Ada perasaan gelisah dan tak nyaman jika tidak mengeluarkan uang untuk barang-barang yang kamu inginkan. Coba telaah lagi, perasaanmu tepat tidak ya?

Menyesal Saat Barang Tidak Terpakai

Setelah kalap belanja, kamu baru menyadari bahwa barang-barang itu sebenarnya tidak bermanfaat. Akhirnya, semua barang itu jadi tertumpuk dan tidak dapat digunakan. Kamu memang menyesal, namun hal itu diulangi terus-menerus tanpa henti karena sudah menjadi kebiasaan.

Berbelanja memang perlu ketika dibutuhkan, namun jangan sampai berlebihan ya. Ingat kembali kebutuhan dan prioritasmu.

Mengenal “Bias Negatif dalam Berpikir”

  ·   2 min read