Work, Produktivitas

Pekerja Keras atau Workaholic: Kamu yang Mana?

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini
Work harder is good, but…work smarter is better”

Ada banyak sekali tipe orang dalam bekerja. Ada orang yang santai namun selesai, ada yang bekerja dengan cepat, bekerja lambat namun hasilnya bagus, bekerja penuh semangat dan aktif, ada juga yang sangat cinta bekerja sampai-sampai disebut ‘pecandu kerja’.

Hmm, selama ini, kebanyakan orang menganggap bahwa mereka yang giat bekerja atau pekerja keras sama dengan workaholic. Padahal, makna keduanya cukup berbeda, lho.

Pekerja keras cenderung mengarah ke perilaku positif, sementara, workaholic memiliki stigma agak negatif.

Biasanya, seorang workaholic ini dianggap sebagai orang yang gila bekerja. Alasannya karena ia cenderung mengerjakan terlalu banyak tugas sampai tidak mengimbangi kehidupannya. Bahkan, beberapa workaholic bisa mengabaikan kebutuhan pribadi yang penting seperti makan, minum, atau bersosialisasi.

Tentu, pekerja keras akan dipandang baik dan dihargai, namun kecanduan kerja sampai berlebihan hanya akan menyebabkan masalah. Kemungkinan besar, para workaholic sebenarnya tidak senang atau bahkan menderita karena terus-menerus bekerja.

Obsesi pada pekerjaan membuat mereka memikirkan dan menghabiskan terlalu banyak waktu pada pekerjaan sampai mengganggu aktivitas lainnya.

Padahal, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan berlebihan yang dialami seseorang saat bekerja dapat meningkatkan risiko gangguan kejiwaan seperti depresi.

Mental mereka menjadi lebih rentan terganggu, seperti mudah marah, sulit berkonsentrasi, sensitif, dan lain-lain. Bisa juga berdampak kepada fisik, seperti kurang nutrisi, lemah, mudah lelah dan mengantuk.

Lalu, bagaimana cara membedakan pekerja keras dengan workaholic? Kira-kira, kamu termasuk golongan yang mana sih?

Perilaku Kerja

Photo by JESHOOTS.COM on Unsplash

Perbedaan paling utama seorang pekerja keras dan workaholic adalah pemaknaan dalam bekerja yang memunculkan perilaku kerja.

Seorang workaholic atau pecandu kerja, lebih mengarah pada perilaku negatif. Kecanduan dalam hal apapun bukanlah sesuatu hal yang baik. Artinya, ia sudah tidak dapat mengontrol dirinya lagi, atau ada kecenderungan untuk tidak berhenti bekerja.

Para workaholic punya dorongan batin yang kompulsif untuk bekerja, berpikir mengenai kerjaan terus-menerus, dan akan merasa gelisah atau bersalah saat tidak bekerja.

Sementara, pekerja keras mengarah ke hal positif dan memiliki etos kerja yang tinggi. Mereka mampu bekerja secara optimal dengan kualitas yang baik, namun tetap mengontrol diri. Seorang pekerja keras terbiasa menyeimbangkan waktu untuk bekerja dengan waktu istirahatnya.

Waktu Bekerja

Photo by Samantha Gades on Unsplash

Seorang workaholic seringkali tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti kerja. Hal ini mungkin disebabkan karena kebiasaan workaholic yang selalu meninjau kembali hasil kerja dan susah untuk merasa puas.

Inilah yang menyebabkan workaholic bisa menghabiskan waktu hingga belasan jam dalam sehari. Mereka suka merasa bersalah pada diri sendiri jika sedang tidak bekerja.

Pekerja keras biasanya lebih menyesuaikan diri dengan waktu kerja. Mereka fokus untuk mencapai hasil tertentu. Ketika selesai sesuai dengan waktunya, mereka akan berhenti dan beralih ke aktivitas lain. Maka, waktu kerja yang dihabiskan juga sesuai dengan kewajiban mereka.

Optimalisasi Pekerjaan

Jika dilihat dari kualitas kerja, mungkin workaholic dan pekerja keras memiliki hasil yang sama baik. Namun, kemampuan mereka cukup berbeda dalam efektivitas dan efisiensi waktu.

Contohnya saat diberikan tugas yang harus diselesaikan dalam seminggu. Workaholic bisa saja menghabiskan 12 jam dalam sehari untuk menyelesaikannya. Sementara, pekerja keras mampu menyelesaikan tugas itu dengan bekerja normal 8 jam sehari.

Dengan kualitas hasil kerja yang sama baik, pekerja keras lebih mampu mengoptimalkan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki. Dari segi efektivitas dan efisiensi, pekerja keras bisa lebih cerdas dalam memanfaatkan waktunya.

Hubungan Sosial

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Nah selanjutnya, perbedaan dalam relasi sosial. Kemampuan bersosialisasi yang dimaksudkan adalah bagaimana cara membagi waktu untuk bekerja dan waktu untuk interaksi bersama teman, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Seorang workaholic akan menganggap hal terpenting dalam hidupnya adalah bekerja. Kemungkinan besar, workaholic akan mengurangi waktu mereka untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dalam pikirannya, jika tidak berkaitan dengan pekerjaan, hal itu hanya akan menghabiskan waktu saja.

Sementara, pekerja keras memiliki pemikiran yang berbeda. Saat bekerja, mereka tetap akan fokus menyelesaikan tugas. Namun mereka tetap bisa membagi waktu untuk bersosialisasi bersama teman atau keluarga. Para pekerja keras biasanya ingin menjaga hubungan baik dengan orang di sekitarnya dan membagi waktu secara adil.

Motivasi

Photo by Felicia Buitenwerf on Unsplash

Motivasi seorang workaholic dan pekerja keras tentu berbeda.

Bagi workaholic, mereka menjadikan pekerjaan sebagai kepuasan pribadi semata, bahkan mereka sering tidak menyadarinya. Mereka bekerja secara ambisius dan hanya memedulikan faktor tertentu saja. Seringkali melupakan hal lain seperti kebutuhan diri sendiri karena di bayangan mereka, kerja adalah nomor satu.

Lain halnya dengan pekerja keras, biasanya mereka memiliki motivasi tertentu. Alasan yang jelas membuat mereka menjadi membatasi diri dan menyadari tujuannya.

Tidak melulu soal performa diri dan keuntungan, motivasi mereka mungkin berkaitan dengan kebahagiaan orang lain. Maka, biasanya pekerja keras akan lebih realistis menentukan motivasinya, dan akan berhenti saat sudah merasa cukup atau terpenuhi.

Kesehatan

Photo by Hush Naidoo on Unsplash

Sadar atau tidak, workaholic memiliki tingkat kesehatan yang cenderung lebih rendah daripada pekerja keras. Penelitian juga membuktikan bahwa orang yang bekerja terus-menerus tanpa henti atau kecanduan, menjadi lebih rentan terkena penyakit.

Di lain sisi, pekerja keras menyadari bahwa untuk menciptakan kinerja yang baik maka diperlukan kesehatan tubuh. Mereka tetap bekerja dengan giat tanpa melalaikan kebutuhan utama seperti makan, minum, istirahat, dan lain-lain.

Hasil Kerja

Photo by Jacqueline Kelly on Unsplash

Bagi workaholic yang ‘mendewakan’ pekerjaan, tentu mendambakan hasil akhir yang sempurna. Hidupnya yang didedikasikan untuk bekerja membuat jadi lebih ambisius. Seringkali workaholic tidak mau menerima kesalahan dan memeriksa pekerjaan sampai sangat detil.

Sebenarnya, hal ini bisa menjadi positif. Namun ketika mengorbankan diri sendiri, sampai meributkan hal-hal kecil yang tidak krusial, rasanya terlalu berlebihan.

Pekerja keras sesungguhnya juga memiliki standar tersendiri. Ya, mereka menginginkan hasil yang bagus, namun juga menyesuaikannya dengan kemampuan. Maka, bentuk akhir yang diharapkan lebih realistis.

Ciri-ciri di atas cukup menjelaskan perbedaan antara workaholic dengan pekerja keras, ya. Jika ternyata selama ini kamu cenderung bekerja seperti workaholic, ada baiknya kamu mencoba untuk sedikit berubah.

Kenapa? Tentu saja agar kebiasaan-kebiasaan itu tidak mengganggu kehidupanmu. Ingat, ada kesehatan yang lebih penting dan orang-orang yang menyayangimu. Yuk hargai diri sendiri dengan bekerja sewajarnya!

Tanda-Tanda Kamu Tidak Cocok dengan Pekerjaanmu

  ·   4 min read