Bisnis

Perbandingan Personal Brand vs Corporate Brand

Written by Abid Ra

Kamu ingin membuat sebuah brand, apakah nama yang akan kamu pililh? Sesuatu dengan nama yang mengandung kata "Empire" ataukah kamu ingin menamainya dengan nama kamu sendiri.

Corporate branding dan personal branding merupakan dua sisi mata koin yang sama.

Ketika kita melemparkannya, mereka memiliki nilai yang sama. Bedanya bagaimana kita akan menggunakan sisi tiap koin ini.

“Jadi, mana yang lebih baik. Personal Brand atau Corporate Brand?”

Jawabannya tergantung pada:

  • Nama
  • Produk
  • Lamanya permainan

Setiap hal memiliki perannya masing-masing, jika kita tidak benar dalam mengaturnya yang ada apa yang kita bangun akan berantakan atau gagal.


1. Memilih Nama

Photo by Malte Wingen on Unsplash

Mari kita mulai dengan contoh Bisnis Fotografi.

Kamu dapat memakai nama "(Nama Kamu) Photography" contohnya "Jason Wedding Photography" . Pada kasus lain, Kami coba menggunakan nama "Empire Photography" sebagai contoh.

Kedua pilihan tersebut semuanya bagus.

Perbedaan antara Corporate Brand dan Personal Brand terletak pada persepsi dalam ukuran.

"Empire" akan berasa lebih luas cakupannya, sedangkan menggunakan Personal Brand akan terasa lebih kecil cakupannya.

Personal Brand bukanlah sesuatu yang jelek. Karena ada beberapa jenis bisnis yang lebih menguntungkan jika menggunakan Personal Brand. Sebagai contoh jika kita ingin fokus pada "Wedding Photography"

Bagaimana dengan alternatifnya? Sebuah Nama yang acak

Banyak brand diluar sana yang menggunakan sebuah kata, nama, ataupun sebuah tempat.

Amazon. Nike. Apple. Mereka contoh Kata Random dipertama dan Nama Brand kedua.

Namun,  brand ini tumbuh sangat besar sehingga sekarang kata tersebut identik dengan brand tersebut. Ini memunculkan perusahaan dalam pikiran ketika hanya menyebutkan..

Jadi, kamu dapat beranggapan bahwa nama itu kurang penting daripada brand yang kamu bangun karena jika brand tersebut tumbuh cukup besar, pada akhirnya ia akan menjadikan nama tersebut.

Ini benar adanya... tapi jangan jadikan ini sebagai alasan. Karena sebetulnya ada alasan tersendiri dibalik nama brand tersebut.

Ketika perusahaan tersebut membuat nama, sebetulnya dibalik itu ada suatu hal yang suggestive dan dikemas yang didalamnya terdapat visi dan misi perusahaan tersebut.

Nama brand kamu bisa jadi:

  • Suggestive
  • Playful
  • Explanatory
  • Generic

Berikut ini contohnya: Jika aku buka coffe shop, aku akan menamainya “The Grind.”

Nama itu memiliki dua makna. Grind kopi dan grind sehari-hari yang dilalui orang dalam hidup mereka - berpotensi membutuhkan kopi saya untuk melewatinya. *grind = gilingan, memutar

Grind juga menjadi future tense is also suggestive dari kesegaran kopi tersebut.

Hanya dengan dua kata, saya memaknai kata tersebut lebih dari yang kamu pikirkan.

  • Langkah yang dapat diambil: Tangkap Pesan atau dari brand yang akan kamu buat, brand itu ga harus menyangkut nama kamu, yang penting mengandung visi kedepannya.

2. Spesifik vs. Tidak Spesifik terharap Produk

Photo by Icons8 Team on Unsplash

Jangan batasi nama brand kamu nantinya dengan produk itu sendiri. Kamu harus berpikir besar.

Jika nama brand kamu terlalu spesifik, itu akan membuat brand kamu susah menjadi lebih besar nantinya.

Pada contoh diatas, Saya bisa menyebut "Jason Wedding Photography" untuk membangun produk.

Jika seseorang googling ‘wedding photographer’ dan brand itu muncul, mereka akan lebih tau bahwa brand itu memang apa yang sedang mereka cari.

Menggunakan nama sendiri juga menaikan accountability. Orang-orang suka dengan hal seperti itu.

Ini penting untuk bisnis dengan niche Weeding Photography. Pasangan yang ingin menikah ingin mereasa nyaman dengan service yang akan mereka hire.

Namun,  dengan brand yang seperti itu, setelah wedding selesai, orang tidak akan melihat layanan lain dari brand kita, mungkin untuk memfoto bayi pertama mereka ataupun foto keluarga nantinya.

Karena brand itu ‘wedding photography.’

Nama brand tersebut terlalu spesifik sehingga akan susah nantinya untuk scale up ataupun extend beberapa service lainnya.

Hilangkan kata ‘wedding’ dan masalah terselesaikan, benarkah? Tidak cukup.

Bagaimana jika kamu juga ingin menjangkau sampai Videgraphy? Sekarang seseorang akan melihat bahwa "Jason Photography" tidak akan mereka hire karena nama brandnnya "Photography".

Sebelum menetapkan Personal Brand, pastikan kamu tidak terperangkap dalam satu service atau produk.

Kopi Kenangan

Kopi Kenangann adalah nama yang bagus untuk coffee shop, tapi jika suatu saat kamu ingin menjual teh, kamu telah merusak peluang kamu dengan sebuah nama saja. Nama itu terlalu spesifik untuk satu produk.

That's why walau brand upnormal dulu adalah jualan indomie. Tapi dia tidak mencantumkan nama Indomie dalam nama brandnya, karena kedepan yang dijual bukan cuman mie saja.

It’s OK to be an expert, atau menguasai satu bidang. Namun, kamu harus tau batasan-batasan saat menerapkan nama brand.

Memulai bisnis kamu dengan nama “Gwen’s Hair Salon” adalah sebuah nama yang sangat bagus untuk membuat bisnis brand lokal dengan spesialisasi potong dan styling rambut, selama kamu tahu untuk men scale-up brand tersebut tidak mudah.

Namun, menyebutnya dengan nama ‘Bonzï,’ dan kamu telah menjadikan brand kamu untuk bebas kemana nantinya brand itu.

Bonzï bisa jadi hair, atau itu juga bisa jadi hair dan nails. Atau, itu bisa jadi hair, nails, clothing, furniture, baby products — apapun.

  • Langkah yang dapat diambil: Tentukan apa yang ingin kamu jual, tapi hati-hati membuat limit pada satu produk atau niche. Nama brand kamu harus sesuai dengan bisnis kamu, bukan membuat limit itu.

Menjadi spesifik menunjukkan skill, tetapi kurangnya dari spesifik memungkinkan untuk diversifikasi.


3. Apa Strategi ‘Long Game’ Kamu?

Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah long game. Kemana tujuan kamu nantinya dengan brand ini?

Photo by Hello I'm Nik 🍌 on Unsplash

Pikirkan apa yang kamu inginkan nantinya terhadap brand kamu itu.

Mengapa kamu membangun bisnis ini?

Jika tujuan akhir kamu adalah untuk memperluas lini produk kamu di luar produk awal kamu, personal brand tidak cocok untuk kamu.

Jika tujuan akhir kamu adalah untuk memperluas sistem kamu sehingga kamu dapat mempekerjakan orang lain untuk melakukan pekerjaan kamu, maka personal brand tidak baik untuk digunakan.

Jika tujuan akhir kamu adalah menjual bisnis atau ide dan pensiun dini, jangan membuat personal brand.

Empat brand terbesar di dunia itu dinamis dan terbuka untuk interpretasi.

Mereka adalah:

  1. Amazon
  2. Apple
  3. Facebook
  4. Google

Setiap nama brand tidak memiliki spesifikasi. Baik dalam produk yang mereka jual dan siapa yang menjalankannya.

Mereka dapat dijual, ditransfer, diversifikasi penawaran produk mereka, dan tumbuh. Itu memang disengaja sejak awal.

Sekarang bayangkan sebaliknya.

Pada contoh dari ‘Jason Wedding Photography,’ tidak memungkinkan untuk menjual bisnis ini dimasa depan nantinya.

Masalah lainnya adalah customer juga akan berekspektasi bahwa dia akan bekerja dengan kamu (Jason) bukan dengan orang lain, jadi nanti akan susah jika kita akan hire staff baru untuk membantu pekerjaan kita dilapangan.

Ini nantinya akan menjebak sebagai bisnis berbasis layanan dan tidak memungkinkan untuk skala sebagai bisnis berbasis produk.

Perusahaan tersebut hanya dapat mendapatkan bayaran atas apa yang dia kerjakan. Bagus sekali, jika itu tujuannya ... tetapi tidak seharusnya begitu.

Memiliki nama personal brand yang tidak dapat dipindahtangankan menempatkan batas-batasan tidak terlihat untuk pertumbuhannya dan potensi brand itu sendiri.

Apakah itu yang kamu inginkan?

Seiring bertambahnya usia, pertumbungan, dan perubahan passion kita, itu tidak terlepas dari kemungkinan kamu akhirnya ingin menjual bisnis kamu dan melakukan sesuatu yang lain.

Terutama jika itu cukup berhasil untuk membeli kebebasan pada diri kamu nantinya.

Langkah yang dapat diambil: Putuskan apa tujuan akhir kamu dengan brand yang kamu buat. Apakah ini untuk skala bisnis yang lebih besar dari kamu sendiri? Atau untuk membangun karier yang sederhana untuk diri sendiri, seumur hidup.

Dengan memeriksa masa depan dari brand kamu sebelum memberi nama, kamu akan memastikan bahwa jalan yang akan kamu lewati akan membawa kamu tepat ke tempat yang kamu tuju.

Waktu kamu tidak akan terbuang sia-sia dan kamu tidak perlu takut mengubah arah tujuan bisnis kamu nantinya.

Karyawan vs Pengusaha, Pilih yang Mana?

  ·   5 min read