Saatnya Jauhi Kebiasaan Buruk Demi Kecerdasan Emosional

Written by Chairul Rachman Ramadhan

Kecerdasan emosional adalah kemampuan yang berperan dalam mendorong hubungan, karier, dan keberhasilan. Kecerdasan emosional menandakan kemampuan kita untuk mengenali emosi dan menggunakan informasi emosional untuk memengaruhi pikiran dan tindakan.

Kelihatannya ide ini sederhana, namun sebenarnya merupakan hal yang kompleks untuk dipahami. Kecerdasan emosional memberi kita cara yang sangat jelas untuk memahami siapa kita dalam dunia ini.

Rosalie Holian dari RMIT University pernah menulis “EQ Versus IQ: What’s the Perfect Management Mix?” Holian beranggapan bahwa orang dengan IQ tinggi cenderung menjadi pemecah masalah yang baik. Mereka juga pintar menemukan solusi terbaik ketika dihadapkan pada sebuah situasi baru.

“Ketika seseorang dengan IQ tinggi juga memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, yang dapat diperoleh dari pengalaman serta kualifikasi pendidikan formal, maka mereka cenderung memiliki berbagai keterampilan,” ungkap Holian.

Dilihat dari sudut pandang psikolog, dalam hal ini banyak orang terlihat seperti tidak memiliki banyak kecerdasan emosional. Mereka menyalahkan orang lain karena masalah mereka, mereka menjebak diri dalam siklus stres dan kecemasan, mereka menyabotase diri sendiri segera setelah mereka mulai membuat kemajuan.

Sayangnya, banyak orang menahan diri dari menggunakan kecerdasan emosional bawaan mereka dengan sekumpulan kebiasaan buruk yang menghalangi. Oleh karena itu, kalau kamu ingin meningkatkan kecerdasan emosional maka belajarlah mengidentifikasi kebiasaan-kebiasaan ini dalam kehidupanmu dan segera menghilangkannya.

Mengkritik Orang Lain

Mengkritik orang lain sering kali merupakan mekanisme pertahanan bawah sadar yang ditujukan untuk mengurangi rasa tidak aman pada diri sendiri. Terkadang kita semua kritis. Dan itu tidak selalu merupakan hal yang buruk, ini membantu kita menavigasi dunia dan hubungan kita dengan cara yang objektif.

Tapi ternyata terlalu banyak kritik, khususnya kebiasaan bersikap kritis terhadap orang lain dapat mengarahkan pada kebalikan dari objektivitas. Kemudian dapat membuat kita berpikiran sempit dan buta. Salah satu alasan mengapa begitu mudah untuk mengkritik orang lain adalah karena hal itu membuat kita merasa lebih baik.

“Saat anda menunjukkan kepada diri sendiri bahwa orang lain bodoh, anda juga menyiratkan bahwa anda cerdas. Saat anda mengkritik orang lain karena naif, apa yang sebenarnya anda lakukan adalah mengatakan pada diri sendiri bahwa anda canggih. Saat anda diam-diam tertawa pada diri sendiri tentang betapa mengerikannya selera seseorang, anda mengatakan pada diri sendiri betapa lebih baiknya selera anda.” ungkap Nick Wignal dalam jurnalnya.

Tanpa sadar orang-orang yang terus-menerus mengkritik orang lain hanya berusaha meringankan rasa tidak aman mereka sendiri. Padahal sejatinya, kritik yang bermanfaat adalah tentang membuat dunia lebih baik. Sedangkan kritik yang tidak membantu adalah membuat  dirimu merasa lebih baik.

Khawatir tentang Masa Depan

Sebagai manusia, kita mendambakan keteraturan dan kepastian. Kita begitu takut akan ketidakpastian, dan sangat tidak mau hidup dengannya, sehingga terkadang menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa kita dapat membuat masa depan semakin pasti dengan memikirkannya terus-menerus.

Sehingga terkadang jika keadaan berbalik, kita akan khawatir saat menyadari bahwa kehidupan selalu berubah-ubah dan harapan tersebut menjadi semakin tidak realistis.

Nah, orang yang cerdas secara emosi memahami bahwa kehidupan pada dasarnya tidak pasti. Dan mereka mengerti bahwa lebih baik menghadapi kenyataan ini dengan mata jernih daripada hidup untuk menyangkal hal tersebut.

“Kekhawatiran tidak mengosongkan kesedihannya besok, ia mengosongkan kekuatannya hari ini," - Corrie Ten Boom

Mempertahankan Harapan yang Tidak Realistis

Memiliki harapan dan motivasi adalah hal yang baik untuk mendorong kita lebih bersemangat dalam menjalankan sesuatu. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya juga perlu peran dan bantuan dari orang lain.

Tapi, apa artinya bila kita ternyata mempertahankan harapan yang tidak realistis? Sederhananya, itu menjadikan kita membuat cerita memikirkan apa yang kita dan orang lain harus lakukan.

Disaat pada kenyataannya orang lain tidak mampu memenuhi hasrat kita, secara refleks kita akan membandingkan kenyataan dengan harapan itu, dan berakhir merasa frustrasi dan kecewa. Karenanya, kita harus menaruh harapan tersebut dari hal terdekat dan paling memungkinkan. Berada di lingkungan suportif juga mempengaruhi kita untuk dapat menggapai harapan tersebut.

Disaat kita memiliki harapan, seharusnya kita mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan antisipasi untuk hal-hal yang sekiranya dapat menggagalkan harapan kita. Agar nantinya kita menjadi lebih siap saat terkendala berbagai masalah. Tapi, jangan pernah berhenti berharap ya!

Melatih Kecerdasan Emosional

Jika memang kecerdasan emosional penting, bagaimana cara melatihnya?

Psikolog Bradley Busch pernah menulis artikel berjudul “Emotional Intelligence: Why It Matters and How to Teach It” yang diterbitkan The Guardian. Ia menunjukkan cara mengasah kecerdasan emosional di sekolah, diantaranya mengajarkan anak menjadi pendengar aktif.
“Kemampuan mendengarkan aktif adalah bagian penting dari membantu menciptakan komunikasi dua arah yang sejati—dan itu jauh lebih dari sekedar memperhatikan,” kata Busch.

Meningkatkan kecerdasan emosional memang baiknya dilakukan sejak dini. Menigkatkan kecerdasan emosional pada anak bisa dilakukan dengan mengembangkan kesadaran diri mereka. Tujuannya ketika bertemu orang lain, anak tak membiarkan citra diri yang terlalu tinggi mempengaruhi perilaku dan interaksi sosial. Anak juga perlu diajarkan untuk berempati ketika sedang bersama orang lain.

Empati merupakan kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain tanpa menghakimi, mengenali emosi mereka, dan mampu menyampaikan perspektif kembali. Merefleksikan kembali perspektif orang lain, membuat lawan bicara merasa dipahami dan bisa meningkatkan dukungan.

Jika ingin meningkatkan kecerdasan emosional, cobalah terlebih dahulu menghindarkan diri dari kebiasaan buruk. Berusahalah untuk mengidentifikasi hal-hal yang mengganggu kecerdasan emosional alamiahmu ya!