Lifestyle

Sustainable Fashion: Alternatif Baru untuk Menjaga Lingkungan

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini
Zero waste tak hanya sekedar mengganti sedotan plastik”

Perrnahkah kamu menyadari, limbah fashion ada dimana-mana namun sering kali terlupakan?

Bahkan, industri tekstil dan pakaian adalah penyebab polusi terbesar kedua setelah industri perminyakan. Sedikitnya, 20% limbah cair dunia dihasilkan dari industri fashion.

Laporan dari Environmental Protection Agency mengatakan, ada 15,1 juta ton limbah tekstil di Amerika selama 2013. Sejumlah 12,8 juta ton di dalamnya terbuang sia-sia. Padahal, sekitar 95% limbah tekstil yang terbuang di TPA sebenarnya dapat didaur ulang.

Hal ini terjadi tak lepas dari pengaruh proses produksi dan pemasaran industri fashion yang berganti secara cepat. Selain itu, pola konsumen yang hanya ingin memakai fashion yang sesuai dengan tren saat ini, merupakan faktor lainnya.

Lalu, bagaimana cara agar tetap gaya tanpa mencemari lingkungan?

Mengenal Fast Fashion vs Sustainable Fashion

Apa itu Fast Fashion?

Sebelum revolusi industri di tahun 1800an, fashion adalah sesuatu yang mahal karena dibuat hati-hati dengan tangan (handmade). Kala itu, fashion hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu saja. Namun kemudian, teknologi mesin jahit ditemukan. Pakaian dan berbagai jenis barang fashion lainnya menjadi lebih murah, cepat diproduksi, dan mudah diakses. Pabrik-pabrik kain dan garmen juga mulai bermunculan.

Photo by Roman Spiridonov on Unsplash

Permintaan pasar meningkat, fashion akhirnya dibuat lebih cepat dan murah. Konsekuensinya, barang diproduksi dengan bahan baku yang berkualitas rendah dan tidak dikontrol dengan baik. Barang fashion ini menjadi tidak bertahan lama.

Definisi fast fashion sendiri adalah fashion dengan model yang cepat berganti-ganti dengan harga yang murah. Industri ini sering kali mengorbankan kebebasan pekerja dan meninggalkan dampak buruk pada lingkungan.

Dampak buruk pada lingkungan yang biasanya terjadi adalah pencemaran tanah dan air. Pewarna tekstil dalam industri fast fashion berasal dari bahan kimia yang beracun dan berbahaya. Limbah tekstil ini juga menjadi penyumbang polusi air terbesar di bawah industri pertanian.

Selain dari pewarna tekstil, bahan baku tekstil yang digunakan seperti katun juga memengaruhi pencemaran tanah dan membahayakan kesehatan. Mengapa? Katun memerlukan banyak air dan pestisida dalam produksinya. Selain itu, bahan sintetik seperti polister atau spandex juga menyebabkan lepasnya jutaan mikroplastik ke saluran air setiap kali dicuci.

Ciri-ciri utama fast fashion adalah memiliki banyak model baju yang mengikuti tren terbaru, model baju yang berganti-ganti secara cepat, diproduksi di negara berkembang yang mana pekerjanya mendapat gaji rendah dan tanpa keselamatan kerja, serta memakai bahan baku murah dan berkualitas rendah.

Bagaimana dengan Sustainable Fashion?

Untuk  menghindari fast fashion, kamu bisa menggunakan alternatif sustainable fashion ini.

Sustainable fashion adalah segala pakaian, sepatu, dan aksesoris mode yang diproduksi, dipasarkan, dan digunakan dengan cara yang berkelanjutan. Tentu dengan memerhatikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Dari segi lingkungan, sustainable fashion berusaha untuk meminimalisir dampak buruk pada lingkungan, selama proses produksi hingga akhir produk digunakan. Contohnya, dengan cara memakai energi dan sumber daya air, tanah, hewan, dan tumbuhan secara efisien dan hati-hati.

Photo by Noah Buscher on Unsplash

Bisa juga dengan menggunakan energi terbarukan dan menerapkan konsep 4R. Yaitu Repair (memperbaiki), Remake (membuat kembali), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycling (mendaur ulang) produk-produk fashion.

Nah untuk kamu para konsumen, bisa mencoba gunakan prinsip 5R dalam fashion. Ada apa saja?

1.       Rewear: Gunakan lagi pakaian yang masih layak dipakai

2.       Repair: Perbaiki pakaian yang rusak

3.       Reimagine: Gunakan pakaian dengan cara yang berbeda. Misal modifikasi jadi lebih menarik

4.       Repurpose: Alih fungsikan menjadi sesuatu yang lain

5.       Regift or resell: Donasikan pakaian yang tidak terpakai atau jual di thrift shop

Gunakan Kain Ramah Lingkungan

Selain menggunakan konsep  5R, kamu juga dapat mulai beralih dan memerhatikan bahan pakaian yang kamu gunakan. Bahan pakaian yang paling ramah lingkungan tak hanya berasal dari alam, tapi proses produksinya juga tidak merusak alam.

Photo by Mel Poole on Unsplash

Jika memang perlu membeli pakaian baru, usahakan untuk membeli jenis kain yang ramah lingkungan ya! Berikut beberapa contoh kain yang ramah lingkungan.

1.       Linen. Terbuat dari tanaman rami yang tangguh dan bisa ditanam pada kondisi tanah yang buruk. Produksi linen juga membutuhkan lebih sedikit air dibanding katun. Proses produksinya juga tanpa memakai bahan kimia.

2.       Hemp. Dapat ditanam pada jenis lahan apapun. Proses produksinya tidak melibatkan proses kimia, dan kain hemp punya daya serap yang kuat dan dapat dikomposkan.

3.       Tencel. Terbuat dari pohon kayu putih yang tidak membutuhkan pestisida beracun dan hanya perlu sedikit air. Serta banyak lagi kelebihan lainnya.

4.       Katun Organik. Salah satu perbedaan utama katun konvensional dengan organik adalah penggunaan pestisida dan bahan-bahan kimia dalam pembuatannya. Katun organik lebih aman bagi lingkungan, lebih sedikit menggunakan air, dan dapat dikomposkan.

Nah, dengan menerapkan hal-hal di atas, baik produsen dan konsumen bisa membentuk ekosistem fashion yang lebih sirkular dan berkelanjutan. Coba kamu terapkan hal ini agar dapat mengurangi limbah tekstil yang terbuang ke TPA dan dapat mencemari lingkungan ya.

Yuk mulai jaga dan cintai bumi kita!

(sumber: Buku Sustaination, Dwi Sasetyaningtyas)

Stoicism: Cara Tepat Menghadapi 2020

  ·   3 min read