Opini, Lifestyle

Tak Hanya Tubuh, Sehat Mental juga Penting

Written by Faqihah Muharroroh Itsnaini
Health does not always come from medicine. Most of the time. It comes from peace of mind, peace in the heart, peace in the soul. It comes from laughter and love.”

Pernah mendengar quote di atas?

Sebagian besar orang masih beranggapan bahwa orang yang sehat adalah mereka yang jarang terlihat sakit secara fisik. Hal ini tidak sepenuhnya benar.

Tubuh seseorang bisa terlihat sehat, kuat, dan berpenampilan sempurna, namun ternyata ia tidak memiliki kesehatan mental yang baik. Padahal, perlu kita ketahui bahwa orang yang sehat dapat dilihat dari dua aspek, yaitu jasmani dan rohani.

Lalu, Apa sih Sehat Mental Itu?

Menurut WHO (World Health Organization), seseorang disebut sehat secara mental jika ia dapat menyadari kemampuannya, dapat menangani stres dalam hidupnya, dapat bekerja dengan produktif, dan dapat berkontribusi untuk sekitarnya.

Jika seseorang berada dalam keadaan tenang dan tenteram, ia akan dapat menikmati kehidupan sehari-harinya dan menghargai orang sekitar. Potensi diri juga akan menjadi maksimal, dan orang itu mampu berhubungan positif dengan lingkungannya.

Bagaimana jika seseorang sedang tidak dalam kondisi mental yang sehat?

Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Jika kesehatan mental seseorang terganggu, ia akan mengalami gangguan pada suasana hati, kemampuan berpikir jernih, dan kendali emosi yang berkemungkinan besar mengarah pada perilaku buruk.

Ada cukup banyak bentuk gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, stress, Skizofrenia, gangguan tidur, bipolar, ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), dan masih banyak lagi lainnya.

Indonesia Memiliki Kasus Gangguan Sehat Mental yang Cukup Tinggi

Rasanya sedih melihat kenyataan bahwa di Indonesia sendiri, isu kesehatan mental masih dikesampingkan. Padahal secara angka, jumlah penderita gangguan mental dapat dikatakan cukup tinggi.

Menurut salah satu data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan (Riskesdas Kemenkes), pada 2018 ada sekitar 282.654 rumah tangga atau 0,67 persen masyarakat di Indonesia yang mengalami Skizofrenia/psikosis.

Data ini belum mencakup penduduk usia remaja yang ditemukan mengidap gangguan kecemasan. Tingginya angka penderita gangguan jiwa pun memengaruhi sejumlah kasus bunuh diri di Indonesia.

Stigma Gangguan Sehat Mental Menjadi Penyebab Utama

Photo by Sydney Sims on Unsplash

Stigma sebagian besar warga Indonesia terhadap gangguan kesehatan mental masih sangat sulit diubah. Gangguan sehat mental seringkali dinilai sebagai tanda seseorang kurang iman, atau kerasukan setan.

Alasan inilah yang menyebabkan masyarakat cenderung kurang peduli dengan isu mental health atau mental illness. Tak jarang, orang yang terkena gangguan mental dan sudah cukup parah, mendapat ‘cap’ sebagai orang tidak waras atau gila.

Sementara orang-orang yang tengah merasakan gangguan mental tertentu, ketika berusaha mencari pertolongan, seringkali diabaikan. Banyak orang akhirnya takut untuk menunjukkan dirinya karena tidak siap pada stigma yang diberikan masyarakat.

Bahkan beberapa orang menganggap bahwa topik pembicaraan tentang sehat mental itu memalukan atau tabu. Para penderita kemudian memilih untuk tidak menceritakan permasalahan mereka dan terus melawannya sendirian.

Kabar baiknya, beberapa tahun belakangan, semakin banyak pihak-pihak yang peduli terhadap kasus sehat mental. Kesadaran warga Indonesia sedikit demi sedikit mulai terpupuk, meski belum begitu signifikan.

Naiknya kesadaran ini saya rasakan dari kemunculan sejumlah komunitas, kampanye, kegiatan edukasi tentang sehat mental, atau perbincangan di media sosial. Meski saya menyadari bahwa hanya sebagian kelompok saja yang sudah menyadari arti penting kesehatan mental.

Mungkin di beberapa daerah terutama pelosok Indonesia, masih dibutuhkan usaha yang lebih untuk memberikan pengetahuan mengenai hal ini.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saya memang bukan seorang ahli dalam bidang kesehatan mental. Sebagai mahasiswa, saya hanya mampu memberikan informasi mengenai kesehatan mental kepada orang-orang terdekat sejauh yang saya tahu.

Berikut adalah beberapa cara untuk menghindari gangguan kesehatan mental. Tentunya, mencegah lebih baik daripada mengobati, kan? Hal ini berlaku kepada setiap orang, baik yang sedang mengalami gangguan sehat mental ataupun tidak.

Berpikir Positif

Photo by Allef Vinicius on Unsplash

Salah satu langkah awal yang bisa menghindari stress adalah dengan cara berpikir positif. Kurangi mengkritik atau menyalahkan diri sendiri. Coba lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia. Menghargai diri sendiri dan tidak membandingkan dengan orang lain, akan mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih bermanfaat.

Kelola Stress

Setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Dan hampir semua orang merasakan gejolak emosi tertentu, itu hal yang wajar.

Maka mulai sekarang, coba untuk tidak menghindari, tapi untuk mengelola stress. Bagaimana caranya? Kamu bisa tarik napas dalam-dalam, berjalan santai, olahraga, meditasi, atau menulis di buku harian.

Beberapa orang juga berusaha menyalurkan emosi mereka melalui media tertentu yang tepat. Seperti misalnya mencoret buku tulis, menggambar di kertas, dan lain-lain. Cara tersebut dapat membuat pikiranmu lebih tenang, sehingga suasana hatimu menjadi lebih terkendali.

Berbagi dengan Orang Lain

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash
Some of the most comforting words in the universe are ‘me too.’ That moment when you find out that your struggle is also someone else’s struggle, that you’re not alone, and that others have been down the same road.” – Unknown

Biasakan untuk menceritakan apa yang kamu rasa pada orang yang kamu percayai. Cukup satu atau dua orang, namun kamu lakukan secara rutin.

Begitupun sebaliknya. Kamu bisa ada di posisi sebagai pendengar bagi orang-orang yang membutuhkan teman cerita. Caranya sederhana, kamu hanya perlu mendengar, menerima, dan tidak menghakimi temanmu.

Dengan berbagi cerita dan rasa, seseorang tidak akan merasa sendirian. Tak ada salahnya membuka diri untuk orang lain yang membutuhkanmu. Beban yang sebelumnya terasa berat pun akan menjadi ringan bila dibagi bersama.

Aktif di Kegiatan

Selanjutnya, kamu harus selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekitarmu. Gabunglah dengan kelompok atau komunitas yang kamu senangi. Cari teman-teman yang positif, lakukan kesibukan atau hobi yang dapat menunjang hidupmu.

Dengan menjadi aktif, seseorang akan sibuk memikirkan hal-hal lain yang lebih penting di luar masalahnya.

Sayangi Diri Sendiri

Menjaga asupan makanan yakni makan sehat dan minum air putih yang cukup juga wajib dilakukan. Dengan konsumsi yang sehat, tubuh akan ikut sehat dan bahagia. Selain itu, jangan lupa untuk rutin olahraga dan bermeditasi.

Jaga Hubungan Baik

Terakhir, jaga selalu hubungan baik dengan keluarga, teman, atau kenalanmu di lingkungan sekitar. Hubungan yang sehat akan memudahkan kita dalam menghadapi masalah.

Orang dengan hubungan sosial yang baik juga terbukti lebih mampu mengelola stress dan memelihara kesehatan. Maka, cobalah untuk meluangkan waktu bersama dengan orang-orang baik yang mendukungmu. Kamu juga bisa berkenalan dengan orang-orang baru dan berbagi cerita dengan mereka.

Fisik dan Mental, Keduanya Harus Seimbang

Photo by Dan Meyers on Unsplash

Terbukti, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan tubuh kita. Bagi kamu yang masih kurang atau tidak peduli dengan kesehatan mental, coba untuk berubah, yuk!

Meskipun tampak luarnya baik-baik saja, tidak ada yang pernah tahu isi jiwa dan hati seseorang. Bisa saja kamu atau orang yang kamu kenal ternyata diam-diam mengidap salah satu mental health disorder.

Tak dapat diprediksi, gangguan kesehatan mental bisa terjadi pada siapapun dan kapanpun. Jangan khawatir, persoalan ini bisa cepat diatasi, kok. Asal tidak dibiarkan karena akibatnya bisa menjadi fatal bagi diri sendiri maupun orang lain di sekitar kita.

Jika sudah dirasa parah, jangan ragu untuk pergi menemui psikolog, atau temani orang yang kamu kenal untuk datang ke psikolog.

Semoga kita semua dapat menerapkan pola hidup sehat baik fisik maupun mental. Asah juga empati agar lebih peka terhadap lingkungan dan bisa mendukung terciptanya kesehatan mental yang baik bagi setiap individu.

Mengenal “Bias Negatif dalam Berpikir”

  ·   2 min read