Lifestyle, Fashion

Memahami Thrift Shop Sebagai Ladang Bisnis Kawula Muda

Written by Daniel Rexa Faraz

Pakaian impor bekas atau kerap disebut thrift shop kembali merebak karena kemudahan informasi lewat media sosial. Thrift shop mulai digaungkan kaum milenial untuk menggantikan kata bekas atau ketika zaman dulu disebut “barang cimol”.

Sejarah Thrift Shop

source : Unsplash

Thrift berasal dari kata Thrifting yang berarti kegiatan membeli barang bekas. Ditelusur dari sejarahnya, pakaian bekas yang dijual belikan ini sudah terjadi sejak lama dengan beragam alasan. Jual beli barang bekas ini didasari dengan anggapan dapat menekan limbah tekstil, memanfaatkannya untuk dijual kembali dan mendapat keuntungan, ada pula yang memang menyukai pakaian klasik.

Rentang tahun 1760-1840 bisa dibilang awal mula masyarakat mengenal dan memakai pakaian bekas. Revolusi industri pada abad ke-19 mengenalkan mass-production of clothing yang merubah cara pandang masyarakat saat itu tentang dunia fashion.

Pada masa itu pakaian sangat murah sehingga masyarakat memiliki pemikiran bahwa pakaian adalah barang disposable (sekali pakai, lalu buang). Di Inggris, gaya pakaian bekas mulai marak digunakan era tahun 1980-an dan tahun 1990-an. Penggunaan pakaian bekas itu pun merambah hingga Indonesia.

Sebelum namanya sekeren sekarang,  dahulu terdapat beberapa istilah untuk menyebut thrift shop. Ada yang menyebut pakaian cimol bagi wilayah Bandung dan sekitarnya, pasar loak, awul awul bagi sebagian masyarakat jawa timur, pakaian impor, dan lainnya.

Usaha ini awal mula berkembang di Indonesia berada di wilayah pesisir laut yang berbatasan dengan negara tetangga seperti kawasan Sumatera, Batam, Kalimantan serta Sulawesi. Semakin bertambahnya tahun, mulailah pakaian impor bekas berekspansi ke pulau jawa.

Beberapa toko memulai bisnisnya dengan melabeli tokonya dengan tulisan “pakaian impor”. Hal tersebut dilakukan untuk memikat pembeli yang tidak malu untuk datang membeli dibandingkan menuliskan tokonya barang pakaian bekas. Pembeli pun menghampiri apalagi mulai banyaknya ditemukan pakaian ternama di toko-toko tersebut.

Dilansir melalui Katadata.co.id, sepanjang kuartal I 2019, industri tekstil dan pakaian mengalami lonjakan yang signifikan, yakni tumbuh 18,98%. Pencapaian pada kuartal I 2019 ini jauh lebih baik ketimbang pencapaian kuartal I 2018 yang sebesar 7,46%, bahkan melebihi pencapaian sepanjang 2018 yang sebesar 8,73%.

Selain itu melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) pada triwulan I 2019 naik 4,45% per tahunnya.. Pertumbuhan IBS ditopang oleh produksi sektor industri pakaian jadi yang meroket hingga 29,19% karena peningkatan pesanan, terutama dari pasar ekspor.

Kemudahan akses impor pakaian bekas

source : Unsplash

Laju pakaian impor bekas terus melonjak. Latar belakangnya karena generasi milenial mencoba memperkenalkan pakaian impor bekas dengan berbagai sebutan. Selain itu influencer juga tak ragu berperan dalam  mempromosikan pakaian bekas lewat media sosialnya.

Bahkan ada pula content creator yang membuat langkah-langkah atau tips mix and match pakaian bekas untuk referensi berpakaian di kanal youtubenya.Tak lupa juga sering kali menyertakan harga belinya yang murah meriah. Jika dihitung, harganya hanya 10 persen dari harga asli merk tersebut.

Dengan maraknya informasi yang berseliweran di sosial media sehingga kita terkadang dibuat lupa bahwa bentuk barang ini dilarang oleh pemerintah.

Barang-barang pakaian impor biasanya didapatkan pedagang dari gudang yang ada di Malaysia. Gudang ini tempat penimbunan pakaian bekas yang sebelumnya terkumpul dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, dan Korea. Wahid, penjual pakaian bekas yang sudah berjualan sejak 2015 di pasar cimol gede bage, Bandung menuturkan bahwa ia biasanya mendapatkan pasokan barang dari Jepang dan Korea.

“Ada dua tipe barang yang biasanya dipesan dari pasar ini, ada yang tipe Jepang dan Tipe Korea. Tipe Jepang biasanya tipe barang asli, sedangkan tipe Korea biasanya barang palsu.” ujar Wahid.

Dalam data Analisa Impor Pakaian Bekas Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Tahun 2015 menyebutkan, Amerika Serikat adalah negara eksportir terbesar pakaian bekas dunia dengan pangsa pasar mencapai 15,6 persen.

Urutan kedua dipegang oleh Inggris, dengan pangsa pasar 13,9 persen dan diikuti oleh Jerman sebesar 11,5 persen. Eksportir ketiga negara itu mengalami peningkatan sepanjang 2009 hingga 2013. Pengiriman pakaian bekas itu juga yang masuk ke Indonesia. Pada tahun 2013, Indonesia menjadi negara importir pakaian bekas terbesar ke 152 dengan nilai $0,2 juta.

Thrift Shop Sebagai Tren Bisnis

source : Unsplash

Tren fesyen semakin maju juga dirasakan oleh thrift shop. Banyak para penjual yang memasarkan pakaian impornya lewat media sosial. Kemudahan akses informasi lewat internet serta mulai banyaknya budaya literasi tentang thrift shop sehingga akan memudahkan penjual untuk memasarkan dagangannya.

Eit, harus dipahami bahwa thrift shop tidak melulu soal barang atau pakaian impor lho! Selama barang bekas tersebut dalam kondisi baik dan layak untuk dipakai maka dapat diperjualbelikan.

Kemudahan berjualan lewat media daring juga dirasakan oleh Devo (18). Pemuda asal Bandung tersebut memulai usahanya atas dasar keresahannya memiliki pakaian bekas yang tidak terpakai di lemari pakaiannya.

Sejak saat itu timbul lah ide untuk menjual barang bekas tersebut secara online karena ia sadar jika berjulan dengan metode tersebut tidak perlu membutuhkan modal yang sangat besar yang biasanya perlu dipakai untuk menyewa tempat, pernah pernik, dan lainnya.

Modal tersebut justru bisa ia putarkan untuk kebutuhan yang lain, contohnya beriklan di media sosial agar tokonya dilihat oleh banyak orang. Keresahan Devo pun berbuah manis, pemuda yang beberapa tahun terakhir memulai bisnis thrift shop online inipun bisa mendapatkan omset hingga  satu sampai dua juta rupiah per bulannya.

“Saya berjualan karena ngeliat sekitar sih. Banyak banget pakaian bekas saya yang sudah tidak saya pakai lagi. yasudah saya jual dan lama kelamaan sampai saya harus memesan barang karena permintaan semakin besar. Saya biasanya mendapatkan barang dari paman yang kebetulan seorang distributor barang di Korea. Jadi saya mendapatkan barang berukuran per karung dari paman yang saya jadikan distributor untuk toko jualan saya,” ujar Devo.

Selain lewat online, berjualan langsung di pasar cimol Gedebage pun masih menjadi sektor bisnis yang menguntungkan. Lebih mudah mencari pelanggan untuk sekedar memanggil dan dengan cara lain yang bisa mendatangkan pelanggan. Terlebih pakaian yang berada di pasar konvensional lebih beragam dan kumplit dibandingkan lewat online yang tergantung ketersediaan.

Bisnis thrift shop ini dapat dijadikan pilihan bagi kamu yang memang ingin memulai bisnis dengan modal yang minim. Jika kamu ingin membuka usaha ini, kamu hanya perlu membongkar lemari dan mencari barang atau pakaian yang kira-kira sudah jarang terpakai kemudian menjualnya dengan memanfaatkan media sosial. Nah terdengar menarik, bukan?

Stoicism: Cara Tepat Menghadapi 2020

  ·   3 min read